Makalah psikologi perkembangan anak: Masa Anak atau Masa Sekolah (7-12 tahun)

Pisikologi Perkembangan Anak:
Masa Anak atau Masa Sekolah (7-12 Tahun)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pisikologi Perkembangan Anak”

Disusun Oleh :
Kelompok 5
1.Diah Puspa Haini ( 1720201076 )
2.Mega Pratiwi      ( 1720201089 )
3.Novita Istiqomah ( 1720201097 )

Kelas     : PGMI 03 2017
Dosen Pengampu : Saipul Annur, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
RADEN FATAH PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas membuat makalah yang berjudul “Pisikologi Perkembangan Anak: Masa Anak atau Masa Sekolah (7-12 Tahun)“ ini dengan lancar dan tanpa halangan apapun.
Ucapan terima kasih tak lupa juga kami sampaikan kepada dosen pembimbing mata kuliah Pisikologi Perkembangan Anak yakni kepada Bpk. Saipul Annur, M.Pd. Dalam penulisan makalah ini, kami yakin bahwa banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu kami mengaharap sekali kritik dan saran dari pembaca sehingga akan membawa perbaikan untuk kedepannya. Dan yang terakhir kami berharap makalah ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.Terima kasih.

Palembang,  Maret 2019

Penyusun










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 4
Latar Belakang 4
Rumusan Masalah 4
Tujuan 5
BAB II PEMBAHASAN 6
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Individu 6
Pengertian Pertumbuhan 6
Perkembangan 6
1. Pengertian Perkembangan 6
2. Aspek – Aspek Perkembangan 7
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Sekolah 10
Faktor Intern 10
Faktor ekstern 11
Ciri – Ciri Khas Peserta Didik Usia Sekolah 12
Kriteria Kematangan Masa Anak Usia Sekolah 16
Tugas – Tugas dan Implikasinya dalam Perkembangan pada Masa Anak Usia Sekolah 17
Tugas-tugas Perkembangan pada masa Anak Usia Sekolah 17
Implikasi Tugas Perkembangan pada Perkembangan Anak Usia Sekolah 19
BAB III PENUTUP 20
Kesimpulan 20
Saran 22

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Secara kodrati manusia selalu ingin mendidik keturunanya yang dilakukan pada setiap tahapan umur. Baik tahapan janin, bayi, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa maupun usia lanjut. Anak-anak memasuki tahapan dimana mereka sudah cukup mengerti dan memahami sesuatu serta mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk.
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu. Sedangkan perkembangan secara definitip ialah suatu perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu.
Pada tahapan ini, seorang individu sedang menggali potensi dirinya yang digunakan dalam rangka mencapai kematangan ketika individu tersebut beranjak dewasa. Namun, emosi anak-anak kadang kala labil sehingga harus diarahkan dan diolah sedemikian rupa agar tidak terjerumus pada sesuatu yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain di sekitarnya.
Pada masa inilah, setiap individu akan mengalami masa-masa sekolah dimana mereka akan berinteraksi ke dalam lingkup yang lebih luas dengan berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus dipelajari dan dipahami setiap karakter anak usia sekolah agar dapat memberikan tugas dengan tepat yang dapat mengoptimalkan potensi mereka yang sesuai dengan umur mereka.
Rumusan Masalah
Apa yang  dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan individu?
Apa faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia sekolah?
Apa ciri-ciri khas peserta didik  usia sekolah?
Bagaimana kriteria anak matang sekolah?
Apa tugas dan implikasinya dalam perkembangan pada masa anak sekolah?
Tujuan
Memahami pertumbuhan dan perkembangan individu.
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia sekolah.
Memahami ciri-ciri khas peserta didik usia sekolah.
Memahami kriteria anak matang sekolah.
Memahami tugas dan implikasinya dalam perkembangan pada masa anak sekolah.

















BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
Anak sebagai insan, dalam perjalanan hidupnya dari bayi hingga dewasa, selalu mengalami dua proses yang  beroperasi secara continue yaitu, “pertumbuhan” dan “perkembangan”. Kedua proses ini saling bergantung antara yang satu dengan lainnya, serta tidak dapat dipisahkan dalam bentuk yang murni, atau dalam arti lain tidak dapat berdiri sendiri. Apabila kita harus membedakan, itu hanya bertujuan agar lebih mudah di dalam mempelajari dan memahaminya. Berikut ini pengertian pertumbuhan dan perkembangan.
Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.
Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Hereditas merupakan totalitas karakteristik individu yang  diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.
Pertumbuhan juga diberi makna dan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang bersifat kuantitatif, seperti ukuran berat dan tinggi badan, ukuran dimensi sel tubuh, dan umur tulang.
Perkembangan
Pengertian Perkembangan
Menurut Nagel dalam Sunarto dan Agung Hartono (2008,38), perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karna itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla dalam Sunarto dan Agung Hartono (2008,38), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi organisme, dan organisme ini dilihat sebagai sistem fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan progresif meliputi:
Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
Filogenetik, yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang ini.
Secara definitip perkembangan ialah suatu perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu.
Namun perlu suatu catatan, bahwa perkembangan lebih banyak menunjuk pada perubahan-perubahan yang bersifat psikis atau yang berhubungan dengan kemampuan mental, sebagai hasil dari adanya latihan maupun belajar. Sedangkan pertumbuhan terutama menyangkut perubahan yang bersifat fisis sebagai akibat dari kematangan yang dicapainya. Jadi, pertumbuhan adalah perubahan yang alami.
Aspek – Aspek Perkembangan
Perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik cenderung lebih stabil atau tenang sebelum memasuki masa remaja yang pertumbuhannya begitu cepat. Masa yang tenang ini diperlukan oleh anak untuk belajar berbagai kemampuan akademik.
Menurut seifert dan Hoffnung (1994), perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya).
Bagi anak kegiatan fisik diperlukan untuk mengembangkan kestabilan tubuh dan kestabilan gerak serta melatih koordinasi untuk menyempurnakan berbagai keterampilan. Kebutuhan untuk selalu bergerak perlu bagi anak karena energy yang terumpuk pada anak perlu penyaluran. Di samping itu kegiatan jasmani diperlukan untuk lebih menyempurnakan berbagai keterampilan menuju keseimbangan tubuh,seperti  bagaimana menendang bola dengan tepat sasaran, mengantisipasi gerakan. Pada prinsipnya selalu aktif bergerak penting bagi anak.
Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana kemampuan berpikir anak berkembang dan berfungsi. Kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Kemampuan berpikir anak berkembang dari tingkat yang sederhana dan konkret ke tingkat yang lebih rumit dan abstrak.
Menurut Piaget, masa kanak-kanak akhir berada dalam tahap operasi konkret dalam berpikir (usia 7-12 tahun). Piaget menemukan beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak, diantaranya:
Anak adalah pembelajar yang aktif.
Anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa-apa yang mereka lihat dan dengar secara pasif, tetapi mereka secara natural memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif  berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas tentang dunia yang mereka hadapi.
Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa-apa yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya, anak secara gradual membangun suatu pandangan menyeluruh tentang bagaimana dunia bergerak.
Anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa-apa yang mereka lihat dan dengar secara pasif, tetapi mereka secara natural memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara aktif  berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya tentang realitas tentang dunia yang mereka hadapi.
Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa-apa yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya, anak secara gradual membangun suatu pandangan menyeluruh tentang bagaimana dunia bergerak.
Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada, yakni anak mengasimilasikan lingkungan ke dalam suatu skema. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru, yakni anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.
Proses equilibrasi menunjukkan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih komplek.
Melalui proses asimilasi dan akomodasinya, sistem kognisi seseorang berkembang dari satu tahap ke tahap selanjutnya, sehingga kadang-kadang mencapai keadaan equilibrium, yakni keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamannya di lingkungan.
Perkembangan bahasa
Anak memiliki kemampuan yang lebih dalam memahami da menginterpretasikan komunikasi lisan dan tulisan. Pada masa ini perkembangan bahasa nampak pada perubahan perbendaharaan kata dan tata bahasa. Anak-anak semakin banyak menggunakan kata kerja yang tepat untuk menjelaskan satu tindakan seperti memukul, melempar, menendang, atau menampar. Mereka belajar tidak hanya untuk menggunakan banyak kata lagi, tetapi juga memilih kata yang tepat untuk penggunaan tertentu. Area utama dalam pertumbuahan bahasa adalah pragmatis, yaitu penggunaan praktis dari bahasa untuk komunikasi.
Perkembangan Bicara
Berbicara merupakan alat komunikasi terpenting dalam berkelompok. Anak belajar bagaimana berbicara dengan baik dalam berkomunikasi dengan orang lain. Anak menggunakan kemampuan bicara sebagai bentuk komunikasi, bukan semata-mata sebagai bentuk latihan verbal.
Minat Membaca
Sampai usia 8 tahun anak membaca penuh semangat terutama tentang ceritera-ceritera khayal seperti misalnya karya Anderson dan Grimm. Sedangkan, pada usia 10-12 tahun perhatian membaca mencapai puncaknya. Materi bacaan semakin luas. Dari kegiatan membaca inilah anak memperkaya perbendaharaan kata dan tata bahasa sebagai bekal untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan Moral
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Perilaku moral banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku moral dari orang-orang di sekitarnya. Perkembangan moral ini juga tidak terlepas dari perkembangan kognitif dan emosi anak. Perkembangan moral tidak terlepas dari perkembangan kognitif dan emosi anak.
Menurut Piaget, anatar usia 5-12 tahun konsep anak mengenaia keadilan sudah berubah. Piaget menyatakan bahwa relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya: bagi anak usia 5 tahun, berbohong adalah hal yang buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong adalah dibenarkan dan oleh karenanya berbohong tidak terlalu buruk. Piaget berpendapat bahwa anak yang lebih muda ditandai dengan moral yang heteronomous sedangkan anak pada usia 10 tahun mereka sudah bergerak ke tingkat yang lebih tinggi yang disebut moralitas autonomous.
Kohlberg menyatakan adanya 6 tahap perkembangan moral. Ke-enam tahap tersebut terjadi pada tiga tingkatan, yakni tingkatan:
Pra-konvensional, anak peka terhadap peraturan-peraturan yang belatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik-buruk, benar-salah tetapi anak  mengartikannya dari sudut akibat fisik suatu tindakan.
Konvensional, memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau agama dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, anak tidak perduli apapun akan akibat-akibat langsung yang terjadi. Sikap yang nampak pada tahap ini terlihat dari sikap ingin loyal, ingin menjaga, menjunjung dan member justifikasi pada ketertiban.
Pasca-konvensional, ditandai dengan adanya usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip yang sohih serta dapat dilaksanakan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang memegang prinsip-prinsip tersebut terlepas apakah individu yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak.
Perkembangan Emosi
Emosi memainkan peran yang penting bagi perkembangan. Akibat dari emosi ini juga dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan berulang-ulang.
Hurlock menyatakan bahwa ungkapan emosi yang muncul pada masa ini masih sama dengan masa sebelumnya, seperti: marah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.
Ciri-ciri emosi emosi masa kanak-kanak akhir:
Emosi anak berlangsung relative lebih singkat (sebentar), hanya beberapa menit dan sifatnya tiba-tiba.
Emosi anak kuat atau hebat. Hal ini terlihat bila anak: takut, marah atau sedang bersendau gurau.
Emosi anak mudah berubah.
Emosi anak nampak berulang-ulang.
Respon emosi anak berbeda-beda.
Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya.
Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya.
Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional.
Perkembangan sosial
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral agama. Perkembangan social anak dipengaruhi oleh keluarga, teman sebaya dan guru.
Kegiatan bermain
Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan social anak. Dengan bermain anak berinteraksi dengan teman main yang banyak memberikan berbagai pengalaman berharga. Bermain secara kelompok memberikan peluang dan pelajaran kepada anak untuk berinteraksi, bertenggang rasa dengan sesame teman.
Teman sebaya
Teman sebaya memberikan pengaruh pada perkembangan social baik yang bersifat positif maupun yang negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Pengaruh negatif membawa dampak seperti merokok, mencuri, membolos, menipu serta perbuatan antisosial lainnya.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Sekolah
Harus disadari bahwa perkembangan anak sejak masa bayi hingga dewasa, tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, melainkan sangat dipengaruhi adanya berbagai faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu, pada dasarnya ada dua macam, yaitu :
Faktor intern
Artinya faktor yang ada pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir. Misalnya :
Intelegensi atau Kecerdasan
Intelegensi yang tinggi akan mempercepat perkembangan anak dan sebaliknya intelegensi yang rendah akan menghambat ataupun memperlambat perkembangannya. Gejala-gejalanya dapat dibaca, misalnya ketika nak bermain. Anak yang cerdas biasanya suka bermain sendirian dan lebih suka permainan yang membutuhkan berfikir. Sedangkan anak yang kurang cerdas, pada umumnya lebih senang bermain kelompok dan tidak begitu tertarik kepada permainan yang membutuhkan banyak berfikir.
Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap perkembangan fisik maupun mental anak. Anak perempuan biasanya lebih cepat mencapai taraf perkembangan baik fisik maupun mentalnya bila dibandingkan dengan anak laki-laki. Rata-rata anak perempuan setahun lebih cepat mencapai kematangan seksual dari pada anak laki-laki.
Yang termasuk di dalam faktor intern ini adalah lketurunan sifat yang diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Sebagaimana pendapat para ahli psikologi yang mengikuti aliran “nativisme” mengatakan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir. Sebagai dasar untuk mempertahankan kebenarannya, biasanya para ahli ini menunjukkan berbagai kemiripan atau kesamaan antara orang tua dengan anak-anaknya. Misalnya, ayah dan ibunya berdarah seni, maka kemungkinan besar anaknya pun kelak menjadi seorang seniman atau seniwati, dsb.
Faktor Ekstern
Artinya faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yang datangnya dari luar diri anak. Adapun yang termasuk faktor ekstern ini antara lain :
Kebudayaan
Kebudayaan yang ada di mana anak itu hidup, sangat mempengaruhi tingkah laku atau kepribadiannya. Misalnya, adat istiadat, tradisi, pandangan masyarakat, dan lain sebagainya akan mampu membentuk sikap mental serta kelakuan anak.
Anak-anak yang hidup di pedesaan, biasanya lebih cepat memperoleh kematangan bila dibandingkan dengan anak-anak yang hidup di kota. Anak-anak yang lebih banya mendapatkan kesempatan belajar baik formal maupun non formal, akan lebih banya memperoleh pengetahuan dan pengalaman, serta akan lebih cepat mencapai kematangan baik intelektual maupun emosionalnya bila dibandingkan dengan anak-anak yang kurang memperoleh kesempatan belajar.
Status anak dalam keluarga
Status anak dalam keluarga banyak mempengaruhi perkembangannya. Anak kedua, pada umumnya berkembang lebih cepat dari pada anak sulung atau yang pertama. Hal ini disebabkan karena anak yang lebih mudah mendapatkan kesempatan belajar/meniru dari kakaknya. Namun tidak demikian halnya dengan anak bungsu. Biasanya mereka lebih lambat proses perkembangannya. Ini disebabkan karena anak bungsu cenderung dimanjakan.
Gizi makanan
Nilai makanan sangat mempengaruhi kehidupan anak, terutama pada tahun-tahun pertama atau kedua. Makanan yang banyak mengandung gizi, di samping mempengaruhi pertumbuhan fisik juga mempengaruhi kecerdasan anak.
Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan atau mengidap penyakit tertentu, akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak. Secara psikologis, karena penyakit yang diseritanya memungkinkan sekali anak menjadi rendah diri sehingga enggan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Karena kurang bergaul, mengakibatkan anak sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya dan otomatis kurang memperoleh kesempatan belajar dan pengalaman dari teman atau lingkungannya. Dari sinilah salah satu awal rasa kurang percaya kepada diri sendiri. Apabila dijumpai keadaan yang demikian, maka secepatnya diadakan approach atau pendekatan pribadi untuk diberikan motivasi atau dorongan agar tumbuh kegairahan hidupnya.
Ciri – Ciri Khas Peserta Didik Usia Sekolah
Secara terperinci, sifat anak pada masa keserasian bersekolah sesuai dengan proses perkembangan, baik fisik/jasmani,  mental emosional maupun sosialnya adalah sebagai berikut:
Usia 5-9 tahun ( TK, SD kelas 1-3 )
Fisik
Pertumbuhan badan lambat tetapi teratur.
Koordinasi otot-otot meningkat, dan berkembangnya otot-otot halus.
Pertumbuhan tulang-tulang yang semakin membesar dan mengeras.
Gigi susu tanggal dan mulai tumbuh gigi tetap.
Senang akan permainan yang aktif, berlari-lari,melompat, dan memenjat.
Fungsi penglihatan mencapai batas normal.
Keadaan fisik atau jasmani peka terhadap penyakit (masih mudah terkena penyakit menular dan infeksi pernafasan).
Intelektual
Perkembangan kepandaian masing-masing individu mulai nampak berbeda-beda.
Perhatiannya mudah tertuju kepada benda-benda bergerak, warna-warna yang tajam.
Suka mengumpulkan sesuatu untuk dipertunjukkan kepada teman-teman dan untuk bermain.
Perhatiannya baru sampai pada hal-hal sekarang dan kenyataan.
Perhatian terhadap sesuatu sangat singkat.
Ingin tahu mengapa?
Emosi
Egoistis, ingin selalu didahulukan dan ingin menang sendiri.
Emosi berubah-ubah dan peka terhadap teguran.
Sudah dapat diserahi tanggungjawab ringan.
Identifikasi kuat terhadap orang tua.
Suka atau tidak suka, spontan dikatakan.
Bertanya-tanya tentang perbedaan kelamin.
Sosial
Jujur, suka bercerita apa yang tadi disaksikan.
Senang berkawan, sering-sering agresif atau menyerang dan kadang-kadang suka memerintah.
Tidak pilih-pilih teman.
Laki-laki dan wanita main bersama, tetapi sudah sadar akan perbedaan jenis.
Usia 9-12 tahun ( SD kelas 4-6 )
Fisik
Pertumbuhan lambat dan teratur.
Dengan usia yang sama, anak-anak wanita biasanya lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak laki-laki.
Adanya peningkatan otot-otot besar dan otot-otot halus.
Anggota badan memanjang sampai pada akhir masa ini.
Pertumbuhan gigi tetap, dan gigi susu tunggal.
Nafsu makan besar.
Aktif (banyak bergerak).
Bagi anak wanita, timbul haidh pada akhir masa ini.
Intelektual
Suka berbicara dan mengeluarkan pendapat.
Minat belajar besar.
Banyak minat dalam hal keterampilan.
Ingin mencoba-coba dan selalu ingin tahu tentang sesuatu.
Perhatian terhadap sesuatu relative singkat.
Suka menciptakan alat-alat permainan sendiri.
Amat realistik.
Perhatiannya tertuju pada kehidupan sehari-hari yang kongkrit atau nyata.
Emosi
Kawan menjadi teman berunding.
Ingin sukses dan ingin tahu.
Mulai tumbuh rasa tanggungjawab terhadap tingkah laku dan diri sendiri.
Tidak terlalu ingin tahu tentang lawan jenis.
Mudah kecewa dan cemas bila ada kemalangan di keluarganya.
Lebih banyak perasaan takut dan malu kepada bapak atau ibu guru.
Sosial
Gemar membentuk kelompok sebaya, untuk dapat bermain bersama-sama.
Dalam bermain, sering kali tidak terikat oleh peraturan yang tradisional.
Suka membuat peraturan permainan sendiri.
Dalam bermain, suka bersaing dengan kelompok sebaya yang lain.
Mulai menunjukkan sikap kepemimpinan.
Laki-laki dan wanita bermain sendiri-sendiri.
Lebih senang hidup di dalam kelompoknya.
Gemar memelihara binatang, misalnya memelihara merpati, ayam, dsb.
Gemar menanam sesuatu, sehingga pada masa ini sering disebut masa bercocok tanam.
Ciri-ciri khas anak usia sekolah dasar yang lain ialah sebagai berikut :
Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
Suka memuji diri sendiri
Kalau tidak dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggap tidak penting
Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya
Suka meremehkan orang lain
Perhatiannya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
Ingin tahu, ingin belajar dan realistis
Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus
Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
10. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.
Kriteria Kematangan Masa Anak Usia Sekolah
Kematangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Akan tetapi, kematangan tidak dapat dikategorikan sebagai faktor keturunan atau pembawaan karena kematangan ini merupakan suatu sifat tersendiri yang umum dimiliki oleh setiap individu dalam bentuk dan masa tertentu. Kematangan merupakan suatu hasil dari perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktur pada diri individu seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, saraf dan kelenjar-kelenjar yang disebut kematangan biologis. Kematangan pada aspek psikologis meliputi keadaan berfikir, rasa, kemauan, dan lain-lain.
Kematangan sekolah merupakan kesiapan anak dalam memasuki masa-masa sekolah. Usia anak yang matang sekolah yaitu sekitar umur 7 tahun. Kriteria / kategori kematangan sekolah adalah :
Anak sudah dapat menangkap masalah-masalah yang bersifat abstrak seperti matematika dan angka-angka.
Anak sudah dapat menggambar dengan lebih rapi.
Anak sudah dapat mandi sendiri, berpakaian sendiri, menyisir rambut sendiri, mengikat tali sepatu serta menyisir rambut dengan benar.
Anak sudah lebih mampu mengendalikan tubuhnya untuk duduk dan mendengarkan pelajaran daripada masa sebelumnya, walaupun mereka lebih senang melakukan kegiatan fisik.
Tugas – Tugas dan Implikasinya dalam Perkembangan pada Masa Anak Usia Sekolah
Tugas-tugas Perkembangan pada masa Anak Usia Sekolah
Pada masa ini anak sudah semakin luas lingkungan pergaulannya. Anak sudah banyak bergaul dengan orang-orang di luar rumah. Masyarakat mengharapkan agar anak menguasai dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya agar diterima dengan baik oleh lingkungannya.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa anak sekolah adalah:
Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.
Sebagai makhluk yang sedang tumbuh, mengembangkan sikap yang sehat mengenai diri sendiri.
Belajar bergaul dengan teman sebaya.
Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita.
Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan kata batin, moral dan skala nilai.
Mengembangkan sikap terhadap kelompok social dan lembaga.
Mencapai kebebasan pribadi
Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas perkembangan ditentukan oleh lingkungan keluarga, orang tua, orang-orang terdekat dalam keluarga dan guru di sekolah.
Tugas-tugas perkembangan yang dipaparkan diatas, merupakan gambaran perwujudan kematangan biologis dan psikologis individu, ekspektasi masyarakat dan tuntutan budaya dan agama. Penuntasan tugas-tugas perkembangan tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. Untuk mencapai tugas-tugas perkembangan tersebut, beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah, yaitu:
Menciptakan iklim religious yang dapat memfasilitasi perkembangan kesadaran beragama, akhlak mulia, etika atau karakter peserta didik. Pihak sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana peribadatan, memberikan contoh atau suri tauladan dalam melaksanakan ibadah, dan berakhlak mulia, seperti menyangkut aspek kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Membangun suasana sosio-emosional yang kondusif bagi perkembangan keterampilan social dan kematangan emosi peserta didik, seperti memelihara hubungan yang harmonis antara kepala sekolah dengan guru-guru, guru dengan guru, siswa dengan siswa. Guru bersikap ramah dan respek terhadap peserta didik, begitupun peserta didik kepada guru.
Membangun iklim intelektual yang memfasilitasi perkembangan berpikir, nalar, dan kemampuan mengambil keputusan yang baik. Penciptaan ilkim intelektual ini bias berlangsung dalam proses pembelajaran di kelas (seperti guru menerapkan metode pembelajaran yang variatif; menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan multimedia atau memanfaatkan laboratorium secara efektif; memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, dan mengemukakan pendapat atau gagasan); dan kegiatan kelompok-kelompok belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Mengoptimalkan program bimbingan dan konselling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik, baik menyangkut aspek pribadi, social, belajar/ akademik, maupun karier (sekolah lanjutan atau dunia kerja).
Implikasi Tugas Perkembangan pada Perkembangan Anak Usia Sekolah
Pada masa ini anak mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian, meskipun masih terbatas pada hal-hal yang sifatnya konkret, dapat digambarkan atau pernah dialami. Meskipun sudah mampu berpikir logis, tetapi cara berpikir mereka masih berorientasi pada kekinian. Baru pada masa remajalah anak dapat benar-benar berpikir abstrak, membuktikan hipotesisnya dan melihat berbagai kemungkinan dimana anak sudah mencapai tahapan berpikir operasi formal. Anak telah mampu menggunakan simbol-simbol untuk melakukan suatu kegiatan mental, mulailah digunakan logika.
Pada masa ini umumnya egosentrisme mulai berkurang. Anak mulai memperhatikan dan menerima pandangan orang lain. Berkurang rasa egonya dan mulai bersikap sosial. Materi pembicaraan mulai lebih ditunjukkan kepada lingkungan sosial, tidak pada dirinya saja. Mampu mengelompokkan benda-benda yang sama ke dalam dua atau lebih kelompok yang berbeda. Anak mampu mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan mampu menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan suatu dimensi.
Mulai timbul pengertian tentang jumlah, panjang, luas dan besar. Anak dapat berpikir dari banyak arah atau dimensi pada satu objek. Mengalami kemajuan dalam pengembangan konsep. Pengalaman langsung sangat membantu dalam berpikir. Oleh sebab itu, guru perlu mengamati dan mendengar apa yang dilakukan oleh siswa dan mencoba menganalisisnya bagaimana siswa berpikir.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu. Secara definitip perkembangan ialah suatu perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh factor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu, pada dasarnya ada dua macam, yaitu : (1) Faktor Intern; (2) Faktor Ekstern. Ciri-ciri khas peserta didik usia sekolah meliputi : ciri-ciri fisik, intelektual, emosi, dan sosial.
Kriteria / kategori kematangan sekolah adalah : (1) Anak sudah dapat menangkap masalah-masalah yang bersifat abstrak seperti matematika dan angka-angka; (2) Anak sudah dapat menggambar dengan lebih rapi; (3)Anak sudah dapat mandi sendiri, berpakaian sendiri, menyisir rambut sendiri, mengikat tali sepatu serta menyisir rambut dengan benar; (4) Anak sudah lebih mampu mengendalikan tubuhnya untuk duduk dan mendengarkan pelajaran daripada masa sebelumnya, walaupun mereka lebih senang melakukan kegiatan fisik.
Tugas-tugas perkembangan pada masa anak sekolah adalah : (1) Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain; (2) Sebagai makhluk yang sedang tumbuh, mengembangkan sikap yang sehat mengenai diri sendiri; (3) Belajar bergaul dengan teman sebaya; (4) Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita; (5) Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung; (6) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari; (7) Mengembangkan kata batin, moral dan skala nilai; (8) Mengembangkan sikap terhadap kelompok social dan lembaga; (9) Mencapai kebebasan pribadi. Implikasi Tugas Perkembangan pada Perkembangan Anak Usia Sekolah, umumnya egosentrisme mulai berkurang. Mampu mengelompokkan benda-benda yang sama ke dalam dua atau lebih kelompok yang berbeda. Serta mulai timbul pengertian tentang jumlah, panjang, luas dan besar.
Saran
Demikian makalah ini kami sajikan, Tentunya masih terdapat banyak cacat yang perlu diperbaiki untuk mencapai kesempurnaan. Maka dari itu, kami mohon maaf atas kekurangan dari apa yang kami sajikan. Kami berharap sudilah kiranya kekurangan-kekurangan tersebut, para pembaca yang budiman sebagai pemerhati ilmu lebih khusus di bidang pendidikan untuk memberi koreksi atau saran demi sempurnanya makalah ini.











DAFTAR PUSTAKA
Afifudin, SK dan S. Mawardi. Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar (7-12 Tahun). (Surakarta :Cetakan IV, 1988).
Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Izzaty, Rita Eka, dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Purwanti, Endang dan Nur Widodo. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Malang: UMM Press
Rumini, Sri dan Siti Sundari. 2004. Perkembangan Anak & Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sunarto dan Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Yusuf , Syamsu dan Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
http://jazilarohmah.blogspot.com/2016/05/psikologi-perkembangan-masa-anak-sekolah.html

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Perkembangan Anak pada Masa Kanak-kanak Kanak 4-6 Tahun

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK MASA NATAL DAN POS NATAL