Makalah Perkembangan Anak pada Masa Kanak-kanak Kanak 4-6 Tahun
PERKEMBANGAN ANAK PADA MASA KANAK-KANAK 4-6 TAHUN
Disusun Oleh :
Kelompok 4
Heni Widari (1720201082)
Masnila (1720201088)
Dosen Pengampu :
SAIPUL ANNUR, M.Pd
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat berupa kesehatan dan kesempatan waktu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi Perkembangan Anak dengan judul “Perkembangan pada masa kanak-kanak 4-6 tahun”. Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak untuk memenuhi tugas yang di berikan.
Adapun penulisan makalah ini berisi yakni bab 1 berupa pendahuluan yakni latar belakang dalam penulisan makalah. Bab 2 berupa pembahasan yakni Perkembangan pada masa kanak-kanak 4-6 tahun Dan bab 3 berupa kesimpulan dari pembahasan yang telah dibuat.
Kami juga selaku pemakalah mengucapkan terimakasih kepada Bapak Saipul Annur,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi perkembangan anak. Serta atas kesalahan dalam penulisan dan tutur kata yang tidak berkenan, kami mohon maaf kepada seluruh pembaca.
Palembang, Maret 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 3
Tujuan Penulisan 3
BAB II Pembahasan 4
Pengertian Perkembangan Anak 4
Ciri- ciri Perkembangan Anak 6
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak 8
Perkembangan Fisik Motorik Anak 11
Karakteristik Perkembangan Fisik Motorik 13
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik
Motorik 13
Meningkatkan Keterampilan Fisik dan Motorik Anak 15
Perkembangan Kognitif Anak 16
BAB III Penutup 20
Kesimpulan 20
Saran 21
Daftar Pustaka 22
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anak yang cerdas bukan hanya anak yang lancar membaca atau menjadi seperti Albert Einstein, anak yang cerdas adalah anak yang berkembang secara baik seluruh kemampuan dirinya, baik di lihat dari aspek kognitif, moral, sosial, emosional, dan juga psikomornya yang memungkinkan anak dapat bergerak. Anak yang berusia 4 – 6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir sampai 8 tahun. Pada usia ini secara terminology disebut sebagai anak usia prasekolah, perkembangan kecerdasan pada masa usia 4 – 6 tahun mengalami peningkatan dari 50 % menjadi 80 %. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia prasekolah. (Yudha, 2005:2).
Usia 4 – 6 tahun akan mengalami masa peka, dimana anak mulai sensitif menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang ada. Pada masa peka terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang ada di berikan oleh lingkungannya. Masa ini adalah dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik (motorik), kognitif, bahasa, sosia,l emosional, dan kognitifnya. Oleh karena itu pada masa ini dibutuhkan kondisi dan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak akan tercapai secara optimal.
Pada masa usia 4 – 6 tahun pertama perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan (The Golden Years) karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak sedang berkembang dengan cepat. Pada masa itu perkembangan kemampuan anak akan sangat terlihat pada pada kemampuan fisik dan kognitifnya. Proses perkembangan kemampuan fisik anak berhubungan dengan proses tumbuh kembangnya motorik anak, sedangkan proses perkembangan kognitif berhubungan dengan proses kematangan cara berpikir anak. Oleh karena itu setiap gerakan yang dilakukan oleh anak sesederhana apapun merupakan hasil interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem tubuh yang dikontrol otak. Otaklah yang berfungsi sebagai bagian dari susunan syaraf yang mengatur dan mengontrol semua aktivitas fisik. (Robert Pangrazi, 1981).
Aktivitas fisik yang dikontrol otak, secara simultan dan berkesinambungan mengolah informasi secara terus menerus yang diterimanya, bersamaan dengan itu otak bersama jaringan syaraf membentuk sistem syaraf pusat sebagai pusat kontrol yang akan mendiktekan setiap gerakan yang dilakukan. Dalam kaitannya dengan perkembangan fisik anak, perkembangan ini berhubungan dengan perkembangan kemampuan gerak anak. Oleh sebab itu kemampuan gerak anak akan dapat terlihat secara jelas melalui berbagai gerakan yang dapat dilakukan oleh anak. Bentuk gerakan merupakan perkembangan keterampilan motorik anak.
Menurut Maxim, George W. (1993) Secara umum ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik anak pada usia dini yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat gerakan agar tidak melakukan kesalahan kembali pada gerakan berikutnya. Sedangkan pada masa autonomous gerakan yang ditampilkan merupakan respon yang lebih efisien untuk mengurangi sedikit mungkin kesalahan (anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis).
Meningkatknya kemampuan keterampilan fisik anak di usia 4 – 6 tahun membuat aktivitas fisik semakin banyak, tak heran pada masa itu anak akan melakukan berbagai aktivitas tanpa mengenal lelah. Maxim, George W. (1993) menyatakan bahwa aktivitas fisik akan meningkatkan pula rasa keingintahuan anak dan membuat anak-anak akan memperhatikan benda-benda, menangkapnya, mencobanyanya, melemparkannya atau menjatuhkannya, mengambil, mengocok-ngocok kembali, dan meletakannya kembali benda-benda ke dalam tempatnya.
Pada masa usia pra-sekolah anak akan banyak mengalami masa peka, yang diartikan sebagai suatu masa dimana suatu fungsi berkembang demikian baik dan karenanya harus dilayani serta diberi kesempatan sebaik-baiknya. Masa peka untuk suatu fungsi itu hanya datang sekali saja pada tiap individu, jadi masa peka merupakan masa dimana kemungkinan berkembangnya suatu fungsi adalah maksimal besarnya, misalnya masa peka untuk berjalan pada tahun kedua, masa peka berbicara pada tahun ketiga dan ketrampilan fisik pada tahun keenam, peka untuk perkembangan ingatan logis adalah pada tahun keduabelas dan seterusnya (Pratini, 1990). Agar masa usia pra-sekolah dapat optimal maka stimulasi pendidikan diperlukan guna memberikan perangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak.
Rumusan Masalah
Berdasarkan beberapa konsep dan pandangan tersebut permasalahannya yang akan dibahas adalah :
Bagaimanakah perkembangan anak pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Bagaimanakah perkembangan fisik motorik pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Bagaimanakah perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak 4-6 tahun?
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan fisik motorik pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak 4-6 tahun?
BAB II
PEMBAHASAN
Perkembangan Anak
Perkembangan adalah suatu perubahan dalam prilaku anak yang memperlihatkan interaksi dari kematangan makluk hidup dan lingkungannya. Perkembangan merupakan perubahan dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitan perilaku genetik, ditemukan bahwa ada pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individu. Menurut Santrok (1992), banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Kecerdasan dan temperamen merupakan aspek-aspek yang paling banyak ditelaah yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan (genetik).
Setiap orang berkembang dengan karakteristik tersendiri, perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses seperti proses fisik, kognitif, dan sosial, seperti :
Proses Fisik
Proses-proses fisik merupakan proses biologis yang meliputi perubahan- perubahan fisik individu yang bersifat genetik. Genetik yang diwarisi dari orang tua, perkembangan otak, penambahan tinggi, dan berat badan.
Proses Kognitif
Proses kognitif meliputi perubahan- perubahan ynag terjadi pada individu mengenai pikiran, kecerdasan, dan bahasa.
Proses Sosial
Proses sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan dalam kepribadian. Perubahan pada perkembangan merupakan hasil dari ketiga proses tersebut yang berlangsung pada keseluruhan siklus hidupnya. Siklus perkembangan tersebut Santrok dan Yussen (19920 membaginya atas lima fase yaitu :
Fase pre natal (dalam kandungan)
Fase perkembangan yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan dari satu sel menjadi organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku.
Fase bayi
Fase perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai masa 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa yang sangat bergantung pada orang tua.
Fase kanak-kanak awal
Fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai usia 5 atau 6 tahun. Fase ini disebut juga masa prasekolah dan pada fase ini berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah.
Fase kanak-kanak tengah dan akhir
Fase perkembangan yang berlansung sejak usia 6 sampai dengan 11 tahun. Pada fase ini anak sudah menguasai beberapa keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Fase remaja
Fase perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa rentangan usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir usia 18 sampai 22 tahun. Anak akan berkembang dengan wajar dan normal jika didukung oleh alam sekelilingnya, lingkungan yang cukup sehat dan baik. Perkembangan anak akan terlihat dari perubahan-perubahan aspek jasmani seperti ukuran tubuh dan anggota-anggota tubuh lainnya dan perubahan tersebut diikuti oleh aspek rohani, seperti meningkatnya kemampuan anak dalam mengamati, mengingat, berpikir dan berkehendak akan sesuatu.
Ciri- ciri Perkembangan Anak
Sebenarnya istilah perkembangan dan pertumbuhan ada kesamaannya, yaitu setidak-tidaknya kedua istilah tersebut menunjukkan adanya proses tertentu dan terjadinya perubahan-perubahan menuju ke depan (taraf yang lebih tinggi), serta tidak dapat begitu saja diulang kembali. Di bawah ini akan dijelaskan tentang ciri-ciri perkembangan anak:
Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi yang muncul adalah pertama anak akan dengan cepat belajar marah karena marah merupakan cara yang sederhana dan mudah untuk memuaskan kebutuhannya. Kedua, anak dapat menyadari bahaya yang dahulu belum diketahuinya. Sedangkan yang ketiga adalah ketika perhatian orang tua dialihkan kepada orang lain anak mulai merasakan kedudukannya sebagai anak yang dikasihi mulai terancam. Keempat, yaitu masa yang paling menyenangkan bagi anak ialah senang akan keberhasilan. Sedangkan ciri yang kelima adalah rasa ingin tahu anak akan segala hal besar. Selanjutnya ditandai dengan adanya keinginan anak untuk selalu menang dari seorang anak sangat besar, yang dinyatakan melalui perilaku selalu ingin mendapat pujian.
Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial yang dimiliki anak adalah anak-anak senang bermain dengan teman-teman. Ciri yang lain adalah sifat anak-anak sangat egois, suka bertengkar dan jarang bisa bermain bersama. Selanjutnya, adalah ketika bertengkar, anak biasanya mengambil barang yang sedang dipegang temannya, atau merusak barang/pekerjaan temannya. Berteriak dengan keras, menangis, menendang, marah, tetapi hanya dalam waktu singkat, pertengkaran itu segera terlupakan dan tidak menaruh dendam, bahkan sudah berdamai lagi.
Perkembangan Intelektual
Konsep yang dimiliki oleh anak-anak adalah konsep tentang mati dan hidup yaitu bahwa barang dan manusia itu sama, memiliki nyawa atau hidup. Anak-anak suka memanusiakan barang-barang, menganggap mereka “hidup”, jadi sulit bagi anak-anak untuk mengerti tentang kematian. Selain itu, adalah konsep tentang ruang, melalui bermain anak belajar mengenal jarak, kanan dan kiri, serta mampu membedakan bentuk besar atau kecil.
Sedangkan mengenai konsep tentang angka yaitu bagi anak-anak, angka tidak memunyai arti yang besar. Anak di Taman Kanak-Kanak memang mengenal arti angka satu hingga sepuluh tetapi masih kabur tentag konsep angka. Selain itu, konsep tentang diri yaitu anak akan merasa tertarik akan dirinya sendiri dan dapat membedakan dirinya laki-laki atau perempuan, bahkan mengenal nama-nama organ tubuhnya.
Perkembangan Jasmani
Perkembangan anak umur 4-6 tahun memunyai ciri-ciri yaitu tubuh menjadi besar, sehat dan dapat mengikuti lebih banyak aktivitas serta tidak mudah lelah. Pertumbuhan gigi susu mulai tanggal, lalu tumbuh gigi baru dan anak mudah terserang penyakit.
Dalam perkembangan motoriknya anak juga mengalami perkembangan yaitu dalam keterampilan tangan anak sudah dapat untuk makan sendiri, berpakaian, merawat diri sendiri, menulis, menjiplak, menangkap, dan melempar bola, serta membuat konstruksi rumit. Sedangkan untuk keterampilan kaki anak dapat berlari, melompat tinggi, meluncur, melompat jauh, mendaki, berenang, mengendarai sepeda roda tiga dan roda dua.
Perkembangan Spiritual
Perkembangan spiritual yang dimiliki anak usia 4-5 tahun menurut Mary Go Setiawani adalah yang pertama, anak dapat mengenal kasih Allah melalui kasih orang dewasa terhadap diri anak. Kedua, anak dapat belajar iman anak terhadap Allah dinyatakan melalui rasa percayanya terhadap orang dewasa. Ketiga, anak dapat belajar mengenal Allah melalui kebaktian. Sedangkan yang keempat anak memiliki kesadaran tertentu terhadap hal yang salah dan benar dan anak juga dapat belajar berdoa.
Prinsip-prinsip Perkembangan Pada Anak
Perkembangan adalah suatu proses perubahan pada kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh kearah keadaan yang semakin terorganisir dan terspesialisasi. Makin terorganisir artinya komponen-komponen organ tubuh tersebut semakin dapat dikendalikan sesuai dengan kemauan, sedangkan terspesialisasi artinya bahwa organ-orgtan tubuh semakin dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya masing- masing.
Prinsip perkembangan merupakan suatu perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya. Perkembangan sangat dipengaruhi oleh faktor internal (biologi) dan faktor eksternal (lingkungan) yang sesuai dengan masa perkembangannya. Menurut Harlock (1978) bahwa, pola perkembangan memiliki nilai- nilai ilmiah dan praktis yaitu pengetahuan tentang pola perkembangan untuk mengetahui apa yang diharapkan dari anak dan kira-kira usia berapa harapan itu muncul. Pada prinsipnya perkembangan adalah suatu perubahan kemampuan gerakan sesuai dengan masa pertumbuhan. Prinsip dasar tersebut antara lain :
Anak usia 2 – 4 tahun dan 4 – 5 tahun memiliki kemampuan melihat fokus yang benar sehingga dapat menciptakan aneka aktivitas dengan menggunakan karakteristiknya.
Dan anak dapat melakukan serangkaian gerakan secara berkelanjutan.
Nilai-nilai yang didapat dari perkembangan pada anak, untuk mendapatkan pengalaman yang berarti, hak, dan kesempatan beraktivitas, keseimbangan jiwa dan raga serta mampu berperan menjadi dirinya sendiri. Adapun tujuan dan fungsi perkembangan adalah penguasaan keterampilan yang tergambar dalam kemampuan menyelesaikan tugas tertentu.
Dalam mewujudkan perkembangan bagi anak, maka perlu memahami jenis-jenis berubahan seperti yang terlihat pada tabel berikut:
Prinsip tingkat pencapaian perkembangan anak usia 2 – 4 tahun
Komponen / elemen
Indikator
2 – < 3 tahun
3 - < 4 tahun
Motorik
Kasar
Halus
Berjalan sambil berjinjit
Melompat ke depan dan ke belakang dengan dua kaki
Melempar dan menangkap bola
Menari mengikuti irama
Naik turun tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan berpegangan
Meremas kertas atau kain dengan menggerakan lima jari.
Melipat kertas meskipun belum rapi/lurus.
Menggunting kertas tanpa pola dan koordinasi jari tangan cukup baik untuk memegang benda pipih
seperti sikat gigi, sendok
Berlari sambil membawa sesuatu yang ringan (bola)
Naik turun tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan kaki bergantian
Meniti di atas papan yang cukup lebar
Meniru gerakan senam sederhana seperti menirukan gerakan pohon, kelinci dll).
Menuang air, pasir, atau biji- bijian ke dalam tempat penampung.
Memasukan benda kecil ke dalam botol
Meronce manik-manik yang tidak terlalu kecil dengan benang.
Menggunting kertas dengan mengikuti pola garis lurus.
2. Kognitif
Menyebut bagian-bagian suatu gambar .
Mengenal bagian-bagian tubuh (lima bagian).
Menemukan bagian yang hilang dari suatu pola gambar.
Menyebutkan berbagai nama makanan dan rasanya.
Membedakan perbedaan dua hal dari jenis yang sama.
4 - < 5 tahun
5 - < 6 tahun
3. Motorik
‐ Kasar
Menari menirukan gerakan pohon atau binatang.
Melakukan gerakan meng gantung.
Mampu melakukan gerakan engklek
Melempar dan menangkap bola.
Melakukan koordinasi gerakan kaki-tangan kepala dalam menirukan tarian dan senam
Meniti balok titian
Terampil menggunakan tangan kanan dan kiri.
Mampu melakukan gerakan berjingkat.
4. Motorik
‐ Halus
Mengkoordinasikan jari-jari tangan dengan mata dalam melakukan gerakan yang lebih rumit secara baik.
Memasang dan melepas kancing baju.
Mengepresikan diri melalui kegiatan seni
Membuat suatu bentuk dengan lilin/tanah liat.
Menggambar
Menulis
Menggunting sesuai dengan pola
Menempel gambar dengan tepat
Mengikat tali sepatu
5. Kognitif
Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik.
Memahami prinsip sebab akibat tentang alam sekitar seperti daun bergerak karena angin bertiup dll.
Mengklasifikasikan benda ber dasarkan fungsi
Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif.
Mencari alternatif dalam me mecahkan masalah yang dihadapi.
Menyusun perencanaan ke giatan yang akan dilakukan bersama teman-teman
Menunjukkan inisiatif dan kreatifitas dalam memilih tema permainan.
Perkembangan Fisik Motorik Anak
Perkembangan fisik motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. karena keterampilan motorik halus membutuhkan kemampuan yang lebih sulit misalnya konsentrasi, kontrol, kehati-hatian, dan koordinasi otot tubuh yang satu dengan yang lain.
Perkembangan fisik adalah pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada tubuh/badan jasmani seseorang, Perkembangan fisik merupakan hal yang bersifat tampak dan dapat mudah dilihat dengan kasat mata, Perkembangan fisik meliputi bertambahnya berat badan, tinggi bedan, tumbuhnya gigi pada anak dll.
Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan kemampuan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmani yang terkoordinasi antar pusat syaraf, urat syaraf dan otot. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.keterampilan motorik kasar yaitu gerakan yang dihasilkan dari kemampuan untuk mengontrol otot-otot besar, contohnya adalah berjalan, berlari, melompat, berguling. Keterampilan motorik halus yaitu gerakan terbatas dari bagian-bagian yang meliputi otot kecil, terutama di bagian jari-jari tangan, contohnya adalah menulis, menggambar, memegang, sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk.
Menurut Hurlock (1998) – perkembangan motorik adalah perkembangan pengendalian gerak jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Perkembangan ketrampilan motorik merupakan factor yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Elizabeth Hurlock (1956) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu sebagai berikut :
Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang, seperti anak merasa senang dengan memiliki ketrampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat lainnya.
Melalui ketrampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi helplessness (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ke kondisi yang independence (bebas tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat ketempat yang lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan self confidence (rasa percaya diri).
Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia TK atau pra sekolah, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, mewarnai dll.
Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan dikucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
Perkembangan ketrampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self concept atau kurang konsep diri/kepribadian anak.
Karakteristik Perkembangan Fisik Motorik
Anak usia 4-6 tahun berada pada tahap perkembangan early childhood atau masa kanak-kanak awal yang secara teori dimulai dari usia 3 tahun (Papalia, Olds,& Feldman, 2004). Tahap usia ini biasa disebut sebagai periode prasekolah.Anak usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain :
Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.
Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.
Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik Motorik
Faktor yang mempengaruhi fisik anak
Faktor kematangan
Kematangan atau maturity adalah kesiapan fungsi- fungsi baik fisik maupun psikis untuk melakukan aktivitas tanpa memerlukan stimulus dari luar. Misalnya proses anak belajar duduk, merangkak, berjalan atau bercakap- cakap. Proses- prose situ memerlukan periode belajar dan berlatih. Proses- proses di atas tidak akan menunjukkan hasil yang maksimal bila anak belum mencapai kematangannya.
b. Faktor Keturunan
Tinggi tubuh
Orang tua yang tinggi, cenderung untuk mempunyai keturunan yang tinggi, demikian pula orang tua yang pendek, cenderung akan memiliki keturunan yang pendek pula. Namun tinggi tubuh seseorang tidak dapat diramalkan secara tepat, karena faktor lingkungan, gizi dan kesehatan mempunyai pengaruh pula pada hal itu.
Kecepatan pertumbuhan
Kecepatan pertumbuhan ternyata juga merupakan sifat yang diturunkan. Penelitian-penelitian pada kembar identik memperlihatkan bahwa haid pertama yang dialami kembar identik perempuan terjadi pada usia yang sama. Demikian pula pada perempuan kakak- beradik, haid mereka pada usia yang tidak begitu berbeda.
Pengaruh lain
Nutrisi, Penyebab ini bukan hanya faktor sosial ekonomi yang lemah saja tetapi juga cara dan kebiasaan keluarga dalam hal makan. Akibat bila seorang anak kurang gizi yaitu: anak akan menjadi lemah dan kurang berminat untuk bermain. Selain itu anak juga mudah tersinggung, pemurung dan kadang gugup.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak
Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak. Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan motorik anak, antara lain
a. Kesiapan anak untuk belajar, baik secara fisik maupun psikis.
b. Motivasi anak untuk belajar.
c. Kesempatan untuk berlatih dalam hal ini adalah waktu luang.
d. Kesempatan untuk belajar. Sebagian anak tidak punya kesempatan belajar karena orang tua terlalu protektif.
e. Bimbingan, terutama koreksi diperlukan ketika anak melakukan kesalahan.
Meningkatkan Keterampilan Fisik dan Motorik Anak
Ada banyak faktor yang mempengaruhi penguasaan keterampilan motorik pada anak. Selain faktor kematangan alat- alat tubuh, hal yang tidak kalah penting adalah faktor latihan dan pengalaman. Anak- anak usia prasekolah terkadang masih membutuhkan dukungan dan dorongan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan melakukan kegiatan fisik. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan keterampilan motorik anak :
Dunia anak adalah dunia bermain. Beri kesempatan kepada anak untuk bermain yang dapat melatih penguasaan keterampilan motorik kasar dan motorik halusnya. Suasana ‘berlatih’ harus menyenangkan. Usahakan agar pengalaman bergerak ini juga memasukkan unsure eksplorasi dan aktivitas pemecahan masalah sehingga anak termotivasi untuk kreatif.
Sediakan peralatan dan lingkungan yang memungkinkan anak melatih keterampilan motoriknya.
Perkenalkan dan latihlah anak dengan sebanyak mungkin jenis keterampilan motorik. Semakin banyak jenis ketrampilan yang diberikan akan semakin baik bagi perkembangan motoriknya,
Tidak membeda-bedakan perlakuan antara anak laki- laki dengan perempuan, karena sesungguhnya pada usia ini kemampuan dan ketertarikan anak terhadap aktivitas motorik adalah sama.
Jangan menekankan pada kekuatan dan kecepatan, tetapi perhatikan gerakan dan postur tubuh yang benar dalam melakukan aktivitas motorik tersebut.
Bersabar dalam menghadapi anak, karean berkembangnya suatu keterampilan motorik juga tergantung waktu dan keinginan anak untuk menguasai.
Pada dasarnya setiap anak adalah unik. Oleh karena itu janganlah membandingkan kemampuan motorik anak dengan anak lain yang seusia dengannya.
Selain itu ada juga stimulasi yang bisa diberikan unruk mengoptimalkan perkembangan motorik anak , antara lain:
Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
Keterampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olahraga.
Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
Gerakan-gerakan ibadah shalat
Perkembangan Kognitif Anak
Piaget (1960) menjelaskan bahwa, “Perkembangan kognitif terjadi melalui proses yang dia disebut dengan adaptasi’. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses dimana anak berupaya untuk menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada interprestasinya, sedangkan akomodasi penyesuaian struktur berpikir dengan sejumlah pengalaman baru. Misalnya anak yang berusia 4 – 5 tahun sedang mencoba mendapatkan bola besar, akomodasi akan terjadi ketika anak mengenali bahwa bola tersebut lebih besar dari apa yang biasa dimainkannya. Anak tersebut kemudian memodifikasi pendekatan untuk menguasai bola dengan menyesuaikan dengan genggaman tangannya. Berdasarkan contoh tersebut suatu pengalaman atau lingkungan baru telah mengubah perilaku anak dan pemahamannya hingga kemampuan kognitifnya bertambah.
Piaget (1972) mengkatagorikan perilaku tersebut di atas kedalam 4 (empat) tahap perkembangan kognitif yaitu :
Sensorimaotorik lahir sampai dengan 2 tahun
Preoperasional 2 tahun sampai dengan 8 tahun
Konkret operasional 8 tahun sampai dengan 11 tahun
Formal operasional 11 – 12 tahun dan seterusnya.
Perkembangan kognitif tersebut, pada tahap sensomotorik menggambarkan seseorang berpikir melalui reflek dan gerak tubuh. Artinya kemampuan intelektual berkembang sebagai suatu hasil dari perilaku gerak dan konsekuensinya, dimana gerak selalu berhubungan dengan proses berpikir, pengetahuan dan berpikir muncul sebagai hasil atau akibat dari perilaku yang terjadi melalui gerak tubuh. Pada masa ini anak beradaptasi dengan lingkungannya menggunakan gerak repleks seperti; menggerakkan jari tangan, menendang, menangis dan lainnya.
Pada tahap preoperasional anak usia 2 sampai dengan 8 tahun belum memiliki kemampuan berpikir logis atau operasional yang dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) Prekonseptual yaitu anak yang berusia antara 2 sampai dengan 4 tahun, 2) Intuitive yaitu pada anak yang berusia antara 4 sampai dengan 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai melakukan berbagai bentuk gerak dasar yang dibutuhkan seperi jala, lari, lempar, dan sebagainya. Pada tahap konkret operasional anak bertambah kemampuannya dari variabel dalam situasi problemsolving, dimana anak sudah tidak tergolong pra sekolah melainkan anak sudah memasuki masa dunia sekolah. Pada masa ini anak memasuki periode transisi dalam aspek gerak dan motorik yang dapat dikembangkan kearah keterampilan yang kompleks.
Tahap formal operasional merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan ide- ide yang tidak didasarkan pada realita, anak sudah mampu berpikir yang bersifat abstrak. Tetapi menurut Piaget (1960) banyak anak tidak pernah mencapai tahapan tersebut.
Perkembangan kognitif secara konstan beriteraksi dengan lingkungannya, kuatnya perkembangan kognitif sangat bergantung pada kemampuan intelegensinya. Tahapan-tahapan teori Piaget selalu dialami anak-anak, dan tidak akan pernah terlewati meskipun kemampuan anak berbeda-beda. Menurut Piaget (1972), proses berpikir merupakan fungsi kritis dalam kehidupan yang memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal ini Piaget (1972) Piaget, telah menemukan bahwa, “Anak mampu mendemontrasikan berbagai pengaruh mengenai relativitas dunia sejak lahir hingga dewasa”. Temuan ini lebih dikenal sebagai pendekatan klinis Piaget yaitu suatu sistem pengumpulan data melalui tanya jawab yang sepenuhnya untuk memahami proses berpikir.
Menurut Robert V. dan Cavanaugh (2007) dari Teori Garner menjelaskan 9 kecerdasan yang harus dimiliki anak kaitannya dengan perkembangan kognitif anak yaitu :
Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence) yang dapat berkembang bila dirangsang melalui berbicara, mendengar, membaca, menulis, berdiskusi, dan bercerita.
Kecerdasan Logika Matematika (Logico- Matematical Intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data dan bermain dengan benda-benda.
Kecerdasan Visual-Spasiai (Visual- Spasial Intelligence) yaitu kemampuan dalam memahami ruang yang dapat dirangsang melalui bermam balok-balok dan bentuk-bentuk geometri, melengkapi puzzle, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi) .
Kecerdasan Musikal (Musical /Rhythmic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada, birama, berbagai bunyi dan bertepuk tangan.
Kecerdasan Kinestetik (Bodily / Kinesthetic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui gerakan, tarian, oiahraga, dan terutama gerakan tubuh.
Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence) yaitu mencintai keindahan alam, yang dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, siang-malam, panas- dingin, bulan-matahari.
Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia (berkawan) yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerjasama, bermain peran, dan memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence) yaitu kemampuan memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri, termasuk kontrol diri dan disiplin.
Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) yaitu kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan tuhan, yang dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masa kanak-kanak pada usia Usia 4 – 6 tahun merupakan masa peka, dimana anak mulai sensitif menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang ada. Pada masa peka terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang di berikan oleh lingkungannya. Masa usia 4 – 6 tahun adalah dasar pertama perkembangan kemampuan fisik (motorik), kognitif, bahasa, sosia,l emosional, dan kognitifnya. Oleh karena itu pada masa ini dibutuhkan kondisi dan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak akan tercapai secara optimal.
Pada masa usia 4 – 6 tahun pertama perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan (The Golden Years) karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak sedang berkembang dengan cepat. Pada masa itu perkembangan kemampuan anak akan sangat terlihat pada pada kemampuan fisik dan kognitifnya. Proses perkembangan kemampuan fisik anak berhubungan dengan proses tumbuh kembangnya motorik anak, sedangkan proses perkembangan kognitif berhubungan dengan proses kematangan cara berpikir anak.
Ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik anak pada usia dini yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat gerakan agar tidak melakukan kesalahan kembali pada gerakan berikutnya. Sedangkan pada masa autonomous gerakan yang ditampilkan merupakan respon yang lebih efisien untuk mengurangi sedikit mungkin kesalahan (anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis).Perkembangan motorik anak terdiri dari tiga unsur utama yang sangat dominan yaitu :
Perkembangan anatomis, perkembangan ini ditunjukkan adanya perubahan kuantitas struktur tulang dan tinggi badan. Perkembangan motorik anak nampak dengan bertambahnya jumlah tulang yang secara langsung berpengaruh pada struktur tubuh secara keseluruhan.
Perkembangan fisiologis, perkembangan ini ditunjukkan adanya perubahan dari sistem kerja organ tubuh seperti kontraksi otot, peredaran darah, pernafasan, pencernaan, dan lain-lainnya.
Perkembangan prilaku, perkembangan ini merupakan koordinasi fungsional antara persyarafan dan otot serta fungsi kognitif, afektif, dan konatif.
Perkembangan kognitif terjadi melalui proses yang dia disebut dengan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses dimana anak berupaya untuk menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada interprestasinya, sedangkan akomodasi penyesuaian struktur berpikir dengan sejumlah pengalaman baru.
Saran
Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi dosen pembimbing dan kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena saya hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Metodik Khusus Pengembangan Keterampilan di TK. Depdiknas: Jakarta
Setiawani. Dr. Marry, 2003, Menerobos Dunia Anak. Bandung
http://mariaindarsih.blogspot.com/2012/05/perkembangan-anak-usia-4-6-tahun.html
Hurlock. Elizabeth B, 1978, Perkembangan Anak. Jakarta
Setiawani. Dr. Marry, 2000, Pembaruan Mengajar. Bandung
Susanto, A, 2011, Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Disusun Oleh :
Kelompok 4
Heni Widari (1720201082)
Masnila (1720201088)
Dosen Pengampu :
SAIPUL ANNUR, M.Pd
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat berupa kesehatan dan kesempatan waktu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi Perkembangan Anak dengan judul “Perkembangan pada masa kanak-kanak 4-6 tahun”. Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak untuk memenuhi tugas yang di berikan.
Adapun penulisan makalah ini berisi yakni bab 1 berupa pendahuluan yakni latar belakang dalam penulisan makalah. Bab 2 berupa pembahasan yakni Perkembangan pada masa kanak-kanak 4-6 tahun Dan bab 3 berupa kesimpulan dari pembahasan yang telah dibuat.
Kami juga selaku pemakalah mengucapkan terimakasih kepada Bapak Saipul Annur,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi perkembangan anak. Serta atas kesalahan dalam penulisan dan tutur kata yang tidak berkenan, kami mohon maaf kepada seluruh pembaca.
Palembang, Maret 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 3
Tujuan Penulisan 3
BAB II Pembahasan 4
Pengertian Perkembangan Anak 4
Ciri- ciri Perkembangan Anak 6
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak 8
Perkembangan Fisik Motorik Anak 11
Karakteristik Perkembangan Fisik Motorik 13
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik
Motorik 13
Meningkatkan Keterampilan Fisik dan Motorik Anak 15
Perkembangan Kognitif Anak 16
BAB III Penutup 20
Kesimpulan 20
Saran 21
Daftar Pustaka 22
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anak yang cerdas bukan hanya anak yang lancar membaca atau menjadi seperti Albert Einstein, anak yang cerdas adalah anak yang berkembang secara baik seluruh kemampuan dirinya, baik di lihat dari aspek kognitif, moral, sosial, emosional, dan juga psikomornya yang memungkinkan anak dapat bergerak. Anak yang berusia 4 – 6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir sampai 8 tahun. Pada usia ini secara terminology disebut sebagai anak usia prasekolah, perkembangan kecerdasan pada masa usia 4 – 6 tahun mengalami peningkatan dari 50 % menjadi 80 %. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia prasekolah. (Yudha, 2005:2).
Usia 4 – 6 tahun akan mengalami masa peka, dimana anak mulai sensitif menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang ada. Pada masa peka terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang ada di berikan oleh lingkungannya. Masa ini adalah dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik (motorik), kognitif, bahasa, sosia,l emosional, dan kognitifnya. Oleh karena itu pada masa ini dibutuhkan kondisi dan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak akan tercapai secara optimal.
Pada masa usia 4 – 6 tahun pertama perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan (The Golden Years) karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak sedang berkembang dengan cepat. Pada masa itu perkembangan kemampuan anak akan sangat terlihat pada pada kemampuan fisik dan kognitifnya. Proses perkembangan kemampuan fisik anak berhubungan dengan proses tumbuh kembangnya motorik anak, sedangkan proses perkembangan kognitif berhubungan dengan proses kematangan cara berpikir anak. Oleh karena itu setiap gerakan yang dilakukan oleh anak sesederhana apapun merupakan hasil interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem tubuh yang dikontrol otak. Otaklah yang berfungsi sebagai bagian dari susunan syaraf yang mengatur dan mengontrol semua aktivitas fisik. (Robert Pangrazi, 1981).
Aktivitas fisik yang dikontrol otak, secara simultan dan berkesinambungan mengolah informasi secara terus menerus yang diterimanya, bersamaan dengan itu otak bersama jaringan syaraf membentuk sistem syaraf pusat sebagai pusat kontrol yang akan mendiktekan setiap gerakan yang dilakukan. Dalam kaitannya dengan perkembangan fisik anak, perkembangan ini berhubungan dengan perkembangan kemampuan gerak anak. Oleh sebab itu kemampuan gerak anak akan dapat terlihat secara jelas melalui berbagai gerakan yang dapat dilakukan oleh anak. Bentuk gerakan merupakan perkembangan keterampilan motorik anak.
Menurut Maxim, George W. (1993) Secara umum ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik anak pada usia dini yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat gerakan agar tidak melakukan kesalahan kembali pada gerakan berikutnya. Sedangkan pada masa autonomous gerakan yang ditampilkan merupakan respon yang lebih efisien untuk mengurangi sedikit mungkin kesalahan (anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis).
Meningkatknya kemampuan keterampilan fisik anak di usia 4 – 6 tahun membuat aktivitas fisik semakin banyak, tak heran pada masa itu anak akan melakukan berbagai aktivitas tanpa mengenal lelah. Maxim, George W. (1993) menyatakan bahwa aktivitas fisik akan meningkatkan pula rasa keingintahuan anak dan membuat anak-anak akan memperhatikan benda-benda, menangkapnya, mencobanyanya, melemparkannya atau menjatuhkannya, mengambil, mengocok-ngocok kembali, dan meletakannya kembali benda-benda ke dalam tempatnya.
Pada masa usia pra-sekolah anak akan banyak mengalami masa peka, yang diartikan sebagai suatu masa dimana suatu fungsi berkembang demikian baik dan karenanya harus dilayani serta diberi kesempatan sebaik-baiknya. Masa peka untuk suatu fungsi itu hanya datang sekali saja pada tiap individu, jadi masa peka merupakan masa dimana kemungkinan berkembangnya suatu fungsi adalah maksimal besarnya, misalnya masa peka untuk berjalan pada tahun kedua, masa peka berbicara pada tahun ketiga dan ketrampilan fisik pada tahun keenam, peka untuk perkembangan ingatan logis adalah pada tahun keduabelas dan seterusnya (Pratini, 1990). Agar masa usia pra-sekolah dapat optimal maka stimulasi pendidikan diperlukan guna memberikan perangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak.
Rumusan Masalah
Berdasarkan beberapa konsep dan pandangan tersebut permasalahannya yang akan dibahas adalah :
Bagaimanakah perkembangan anak pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Bagaimanakah perkembangan fisik motorik pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Bagaimanakah perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak 4-6 tahun?
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan fisik motorik pada masa kanak-kanak 4-6 tahun ?
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak 4-6 tahun?
BAB II
PEMBAHASAN
Perkembangan Anak
Perkembangan adalah suatu perubahan dalam prilaku anak yang memperlihatkan interaksi dari kematangan makluk hidup dan lingkungannya. Perkembangan merupakan perubahan dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitan perilaku genetik, ditemukan bahwa ada pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individu. Menurut Santrok (1992), banyak aspek yang dipengaruhi faktor genetik. Kecerdasan dan temperamen merupakan aspek-aspek yang paling banyak ditelaah yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan (genetik).
Setiap orang berkembang dengan karakteristik tersendiri, perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses seperti proses fisik, kognitif, dan sosial, seperti :
Proses Fisik
Proses-proses fisik merupakan proses biologis yang meliputi perubahan- perubahan fisik individu yang bersifat genetik. Genetik yang diwarisi dari orang tua, perkembangan otak, penambahan tinggi, dan berat badan.
Proses Kognitif
Proses kognitif meliputi perubahan- perubahan ynag terjadi pada individu mengenai pikiran, kecerdasan, dan bahasa.
Proses Sosial
Proses sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan dalam kepribadian. Perubahan pada perkembangan merupakan hasil dari ketiga proses tersebut yang berlangsung pada keseluruhan siklus hidupnya. Siklus perkembangan tersebut Santrok dan Yussen (19920 membaginya atas lima fase yaitu :
Fase pre natal (dalam kandungan)
Fase perkembangan yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan dari satu sel menjadi organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku.
Fase bayi
Fase perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai masa 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa yang sangat bergantung pada orang tua.
Fase kanak-kanak awal
Fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai usia 5 atau 6 tahun. Fase ini disebut juga masa prasekolah dan pada fase ini berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah.
Fase kanak-kanak tengah dan akhir
Fase perkembangan yang berlansung sejak usia 6 sampai dengan 11 tahun. Pada fase ini anak sudah menguasai beberapa keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Fase remaja
Fase perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa rentangan usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir usia 18 sampai 22 tahun. Anak akan berkembang dengan wajar dan normal jika didukung oleh alam sekelilingnya, lingkungan yang cukup sehat dan baik. Perkembangan anak akan terlihat dari perubahan-perubahan aspek jasmani seperti ukuran tubuh dan anggota-anggota tubuh lainnya dan perubahan tersebut diikuti oleh aspek rohani, seperti meningkatnya kemampuan anak dalam mengamati, mengingat, berpikir dan berkehendak akan sesuatu.
Ciri- ciri Perkembangan Anak
Sebenarnya istilah perkembangan dan pertumbuhan ada kesamaannya, yaitu setidak-tidaknya kedua istilah tersebut menunjukkan adanya proses tertentu dan terjadinya perubahan-perubahan menuju ke depan (taraf yang lebih tinggi), serta tidak dapat begitu saja diulang kembali. Di bawah ini akan dijelaskan tentang ciri-ciri perkembangan anak:
Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi yang muncul adalah pertama anak akan dengan cepat belajar marah karena marah merupakan cara yang sederhana dan mudah untuk memuaskan kebutuhannya. Kedua, anak dapat menyadari bahaya yang dahulu belum diketahuinya. Sedangkan yang ketiga adalah ketika perhatian orang tua dialihkan kepada orang lain anak mulai merasakan kedudukannya sebagai anak yang dikasihi mulai terancam. Keempat, yaitu masa yang paling menyenangkan bagi anak ialah senang akan keberhasilan. Sedangkan ciri yang kelima adalah rasa ingin tahu anak akan segala hal besar. Selanjutnya ditandai dengan adanya keinginan anak untuk selalu menang dari seorang anak sangat besar, yang dinyatakan melalui perilaku selalu ingin mendapat pujian.
Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial yang dimiliki anak adalah anak-anak senang bermain dengan teman-teman. Ciri yang lain adalah sifat anak-anak sangat egois, suka bertengkar dan jarang bisa bermain bersama. Selanjutnya, adalah ketika bertengkar, anak biasanya mengambil barang yang sedang dipegang temannya, atau merusak barang/pekerjaan temannya. Berteriak dengan keras, menangis, menendang, marah, tetapi hanya dalam waktu singkat, pertengkaran itu segera terlupakan dan tidak menaruh dendam, bahkan sudah berdamai lagi.
Perkembangan Intelektual
Konsep yang dimiliki oleh anak-anak adalah konsep tentang mati dan hidup yaitu bahwa barang dan manusia itu sama, memiliki nyawa atau hidup. Anak-anak suka memanusiakan barang-barang, menganggap mereka “hidup”, jadi sulit bagi anak-anak untuk mengerti tentang kematian. Selain itu, adalah konsep tentang ruang, melalui bermain anak belajar mengenal jarak, kanan dan kiri, serta mampu membedakan bentuk besar atau kecil.
Sedangkan mengenai konsep tentang angka yaitu bagi anak-anak, angka tidak memunyai arti yang besar. Anak di Taman Kanak-Kanak memang mengenal arti angka satu hingga sepuluh tetapi masih kabur tentag konsep angka. Selain itu, konsep tentang diri yaitu anak akan merasa tertarik akan dirinya sendiri dan dapat membedakan dirinya laki-laki atau perempuan, bahkan mengenal nama-nama organ tubuhnya.
Perkembangan Jasmani
Perkembangan anak umur 4-6 tahun memunyai ciri-ciri yaitu tubuh menjadi besar, sehat dan dapat mengikuti lebih banyak aktivitas serta tidak mudah lelah. Pertumbuhan gigi susu mulai tanggal, lalu tumbuh gigi baru dan anak mudah terserang penyakit.
Dalam perkembangan motoriknya anak juga mengalami perkembangan yaitu dalam keterampilan tangan anak sudah dapat untuk makan sendiri, berpakaian, merawat diri sendiri, menulis, menjiplak, menangkap, dan melempar bola, serta membuat konstruksi rumit. Sedangkan untuk keterampilan kaki anak dapat berlari, melompat tinggi, meluncur, melompat jauh, mendaki, berenang, mengendarai sepeda roda tiga dan roda dua.
Perkembangan Spiritual
Perkembangan spiritual yang dimiliki anak usia 4-5 tahun menurut Mary Go Setiawani adalah yang pertama, anak dapat mengenal kasih Allah melalui kasih orang dewasa terhadap diri anak. Kedua, anak dapat belajar iman anak terhadap Allah dinyatakan melalui rasa percayanya terhadap orang dewasa. Ketiga, anak dapat belajar mengenal Allah melalui kebaktian. Sedangkan yang keempat anak memiliki kesadaran tertentu terhadap hal yang salah dan benar dan anak juga dapat belajar berdoa.
Prinsip-prinsip Perkembangan Pada Anak
Perkembangan adalah suatu proses perubahan pada kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh kearah keadaan yang semakin terorganisir dan terspesialisasi. Makin terorganisir artinya komponen-komponen organ tubuh tersebut semakin dapat dikendalikan sesuai dengan kemauan, sedangkan terspesialisasi artinya bahwa organ-orgtan tubuh semakin dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya masing- masing.
Prinsip perkembangan merupakan suatu perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya. Perkembangan sangat dipengaruhi oleh faktor internal (biologi) dan faktor eksternal (lingkungan) yang sesuai dengan masa perkembangannya. Menurut Harlock (1978) bahwa, pola perkembangan memiliki nilai- nilai ilmiah dan praktis yaitu pengetahuan tentang pola perkembangan untuk mengetahui apa yang diharapkan dari anak dan kira-kira usia berapa harapan itu muncul. Pada prinsipnya perkembangan adalah suatu perubahan kemampuan gerakan sesuai dengan masa pertumbuhan. Prinsip dasar tersebut antara lain :
Anak usia 2 – 4 tahun dan 4 – 5 tahun memiliki kemampuan melihat fokus yang benar sehingga dapat menciptakan aneka aktivitas dengan menggunakan karakteristiknya.
Dan anak dapat melakukan serangkaian gerakan secara berkelanjutan.
Nilai-nilai yang didapat dari perkembangan pada anak, untuk mendapatkan pengalaman yang berarti, hak, dan kesempatan beraktivitas, keseimbangan jiwa dan raga serta mampu berperan menjadi dirinya sendiri. Adapun tujuan dan fungsi perkembangan adalah penguasaan keterampilan yang tergambar dalam kemampuan menyelesaikan tugas tertentu.
Dalam mewujudkan perkembangan bagi anak, maka perlu memahami jenis-jenis berubahan seperti yang terlihat pada tabel berikut:
Prinsip tingkat pencapaian perkembangan anak usia 2 – 4 tahun
Komponen / elemen
Indikator
2 – < 3 tahun
3 - < 4 tahun
Motorik
Kasar
Halus
Berjalan sambil berjinjit
Melompat ke depan dan ke belakang dengan dua kaki
Melempar dan menangkap bola
Menari mengikuti irama
Naik turun tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan berpegangan
Meremas kertas atau kain dengan menggerakan lima jari.
Melipat kertas meskipun belum rapi/lurus.
Menggunting kertas tanpa pola dan koordinasi jari tangan cukup baik untuk memegang benda pipih
seperti sikat gigi, sendok
Berlari sambil membawa sesuatu yang ringan (bola)
Naik turun tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan kaki bergantian
Meniti di atas papan yang cukup lebar
Meniru gerakan senam sederhana seperti menirukan gerakan pohon, kelinci dll).
Menuang air, pasir, atau biji- bijian ke dalam tempat penampung.
Memasukan benda kecil ke dalam botol
Meronce manik-manik yang tidak terlalu kecil dengan benang.
Menggunting kertas dengan mengikuti pola garis lurus.
2. Kognitif
Menyebut bagian-bagian suatu gambar .
Mengenal bagian-bagian tubuh (lima bagian).
Menemukan bagian yang hilang dari suatu pola gambar.
Menyebutkan berbagai nama makanan dan rasanya.
Membedakan perbedaan dua hal dari jenis yang sama.
4 - < 5 tahun
5 - < 6 tahun
3. Motorik
‐ Kasar
Menari menirukan gerakan pohon atau binatang.
Melakukan gerakan meng gantung.
Mampu melakukan gerakan engklek
Melempar dan menangkap bola.
Melakukan koordinasi gerakan kaki-tangan kepala dalam menirukan tarian dan senam
Meniti balok titian
Terampil menggunakan tangan kanan dan kiri.
Mampu melakukan gerakan berjingkat.
4. Motorik
‐ Halus
Mengkoordinasikan jari-jari tangan dengan mata dalam melakukan gerakan yang lebih rumit secara baik.
Memasang dan melepas kancing baju.
Mengepresikan diri melalui kegiatan seni
Membuat suatu bentuk dengan lilin/tanah liat.
Menggambar
Menulis
Menggunting sesuai dengan pola
Menempel gambar dengan tepat
Mengikat tali sepatu
5. Kognitif
Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik.
Memahami prinsip sebab akibat tentang alam sekitar seperti daun bergerak karena angin bertiup dll.
Mengklasifikasikan benda ber dasarkan fungsi
Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif.
Mencari alternatif dalam me mecahkan masalah yang dihadapi.
Menyusun perencanaan ke giatan yang akan dilakukan bersama teman-teman
Menunjukkan inisiatif dan kreatifitas dalam memilih tema permainan.
Perkembangan Fisik Motorik Anak
Perkembangan fisik motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. karena keterampilan motorik halus membutuhkan kemampuan yang lebih sulit misalnya konsentrasi, kontrol, kehati-hatian, dan koordinasi otot tubuh yang satu dengan yang lain.
Perkembangan fisik adalah pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada tubuh/badan jasmani seseorang, Perkembangan fisik merupakan hal yang bersifat tampak dan dapat mudah dilihat dengan kasat mata, Perkembangan fisik meliputi bertambahnya berat badan, tinggi bedan, tumbuhnya gigi pada anak dll.
Perkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Sehingga, setiap gerakan sesederhana apapun, adalah merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan system dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan kemampuan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmani yang terkoordinasi antar pusat syaraf, urat syaraf dan otot. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus.keterampilan motorik kasar yaitu gerakan yang dihasilkan dari kemampuan untuk mengontrol otot-otot besar, contohnya adalah berjalan, berlari, melompat, berguling. Keterampilan motorik halus yaitu gerakan terbatas dari bagian-bagian yang meliputi otot kecil, terutama di bagian jari-jari tangan, contohnya adalah menulis, menggambar, memegang, sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk.
Menurut Hurlock (1998) – perkembangan motorik adalah perkembangan pengendalian gerak jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Perkembangan ketrampilan motorik merupakan factor yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Elizabeth Hurlock (1956) mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu sebagai berikut :
Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang, seperti anak merasa senang dengan memiliki ketrampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat lainnya.
Melalui ketrampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi helplessness (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama kehidupannya, ke kondisi yang independence (bebas tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat ketempat yang lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan self confidence (rasa percaya diri).
Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia TK atau pra sekolah, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, mewarnai dll.
Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan dikucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
Perkembangan ketrampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self concept atau kurang konsep diri/kepribadian anak.
Karakteristik Perkembangan Fisik Motorik
Anak usia 4-6 tahun berada pada tahap perkembangan early childhood atau masa kanak-kanak awal yang secara teori dimulai dari usia 3 tahun (Papalia, Olds,& Feldman, 2004). Tahap usia ini biasa disebut sebagai periode prasekolah.Anak usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain :
Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.
Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.
Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik Motorik
Faktor yang mempengaruhi fisik anak
Faktor kematangan
Kematangan atau maturity adalah kesiapan fungsi- fungsi baik fisik maupun psikis untuk melakukan aktivitas tanpa memerlukan stimulus dari luar. Misalnya proses anak belajar duduk, merangkak, berjalan atau bercakap- cakap. Proses- prose situ memerlukan periode belajar dan berlatih. Proses- proses di atas tidak akan menunjukkan hasil yang maksimal bila anak belum mencapai kematangannya.
b. Faktor Keturunan
Tinggi tubuh
Orang tua yang tinggi, cenderung untuk mempunyai keturunan yang tinggi, demikian pula orang tua yang pendek, cenderung akan memiliki keturunan yang pendek pula. Namun tinggi tubuh seseorang tidak dapat diramalkan secara tepat, karena faktor lingkungan, gizi dan kesehatan mempunyai pengaruh pula pada hal itu.
Kecepatan pertumbuhan
Kecepatan pertumbuhan ternyata juga merupakan sifat yang diturunkan. Penelitian-penelitian pada kembar identik memperlihatkan bahwa haid pertama yang dialami kembar identik perempuan terjadi pada usia yang sama. Demikian pula pada perempuan kakak- beradik, haid mereka pada usia yang tidak begitu berbeda.
Pengaruh lain
Nutrisi, Penyebab ini bukan hanya faktor sosial ekonomi yang lemah saja tetapi juga cara dan kebiasaan keluarga dalam hal makan. Akibat bila seorang anak kurang gizi yaitu: anak akan menjadi lemah dan kurang berminat untuk bermain. Selain itu anak juga mudah tersinggung, pemurung dan kadang gugup.
Faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak
Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak. Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan motorik anak, antara lain
a. Kesiapan anak untuk belajar, baik secara fisik maupun psikis.
b. Motivasi anak untuk belajar.
c. Kesempatan untuk berlatih dalam hal ini adalah waktu luang.
d. Kesempatan untuk belajar. Sebagian anak tidak punya kesempatan belajar karena orang tua terlalu protektif.
e. Bimbingan, terutama koreksi diperlukan ketika anak melakukan kesalahan.
Meningkatkan Keterampilan Fisik dan Motorik Anak
Ada banyak faktor yang mempengaruhi penguasaan keterampilan motorik pada anak. Selain faktor kematangan alat- alat tubuh, hal yang tidak kalah penting adalah faktor latihan dan pengalaman. Anak- anak usia prasekolah terkadang masih membutuhkan dukungan dan dorongan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan melakukan kegiatan fisik. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan keterampilan motorik anak :
Dunia anak adalah dunia bermain. Beri kesempatan kepada anak untuk bermain yang dapat melatih penguasaan keterampilan motorik kasar dan motorik halusnya. Suasana ‘berlatih’ harus menyenangkan. Usahakan agar pengalaman bergerak ini juga memasukkan unsure eksplorasi dan aktivitas pemecahan masalah sehingga anak termotivasi untuk kreatif.
Sediakan peralatan dan lingkungan yang memungkinkan anak melatih keterampilan motoriknya.
Perkenalkan dan latihlah anak dengan sebanyak mungkin jenis keterampilan motorik. Semakin banyak jenis ketrampilan yang diberikan akan semakin baik bagi perkembangan motoriknya,
Tidak membeda-bedakan perlakuan antara anak laki- laki dengan perempuan, karena sesungguhnya pada usia ini kemampuan dan ketertarikan anak terhadap aktivitas motorik adalah sama.
Jangan menekankan pada kekuatan dan kecepatan, tetapi perhatikan gerakan dan postur tubuh yang benar dalam melakukan aktivitas motorik tersebut.
Bersabar dalam menghadapi anak, karean berkembangnya suatu keterampilan motorik juga tergantung waktu dan keinginan anak untuk menguasai.
Pada dasarnya setiap anak adalah unik. Oleh karena itu janganlah membandingkan kemampuan motorik anak dengan anak lain yang seusia dengannya.
Selain itu ada juga stimulasi yang bisa diberikan unruk mengoptimalkan perkembangan motorik anak , antara lain:
Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
Keterampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olahraga.
Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
Gerakan-gerakan ibadah shalat
Perkembangan Kognitif Anak
Piaget (1960) menjelaskan bahwa, “Perkembangan kognitif terjadi melalui proses yang dia disebut dengan adaptasi’. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses dimana anak berupaya untuk menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada interprestasinya, sedangkan akomodasi penyesuaian struktur berpikir dengan sejumlah pengalaman baru. Misalnya anak yang berusia 4 – 5 tahun sedang mencoba mendapatkan bola besar, akomodasi akan terjadi ketika anak mengenali bahwa bola tersebut lebih besar dari apa yang biasa dimainkannya. Anak tersebut kemudian memodifikasi pendekatan untuk menguasai bola dengan menyesuaikan dengan genggaman tangannya. Berdasarkan contoh tersebut suatu pengalaman atau lingkungan baru telah mengubah perilaku anak dan pemahamannya hingga kemampuan kognitifnya bertambah.
Piaget (1972) mengkatagorikan perilaku tersebut di atas kedalam 4 (empat) tahap perkembangan kognitif yaitu :
Sensorimaotorik lahir sampai dengan 2 tahun
Preoperasional 2 tahun sampai dengan 8 tahun
Konkret operasional 8 tahun sampai dengan 11 tahun
Formal operasional 11 – 12 tahun dan seterusnya.
Perkembangan kognitif tersebut, pada tahap sensomotorik menggambarkan seseorang berpikir melalui reflek dan gerak tubuh. Artinya kemampuan intelektual berkembang sebagai suatu hasil dari perilaku gerak dan konsekuensinya, dimana gerak selalu berhubungan dengan proses berpikir, pengetahuan dan berpikir muncul sebagai hasil atau akibat dari perilaku yang terjadi melalui gerak tubuh. Pada masa ini anak beradaptasi dengan lingkungannya menggunakan gerak repleks seperti; menggerakkan jari tangan, menendang, menangis dan lainnya.
Pada tahap preoperasional anak usia 2 sampai dengan 8 tahun belum memiliki kemampuan berpikir logis atau operasional yang dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) Prekonseptual yaitu anak yang berusia antara 2 sampai dengan 4 tahun, 2) Intuitive yaitu pada anak yang berusia antara 4 sampai dengan 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai melakukan berbagai bentuk gerak dasar yang dibutuhkan seperi jala, lari, lempar, dan sebagainya. Pada tahap konkret operasional anak bertambah kemampuannya dari variabel dalam situasi problemsolving, dimana anak sudah tidak tergolong pra sekolah melainkan anak sudah memasuki masa dunia sekolah. Pada masa ini anak memasuki periode transisi dalam aspek gerak dan motorik yang dapat dikembangkan kearah keterampilan yang kompleks.
Tahap formal operasional merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan ide- ide yang tidak didasarkan pada realita, anak sudah mampu berpikir yang bersifat abstrak. Tetapi menurut Piaget (1960) banyak anak tidak pernah mencapai tahapan tersebut.
Perkembangan kognitif secara konstan beriteraksi dengan lingkungannya, kuatnya perkembangan kognitif sangat bergantung pada kemampuan intelegensinya. Tahapan-tahapan teori Piaget selalu dialami anak-anak, dan tidak akan pernah terlewati meskipun kemampuan anak berbeda-beda. Menurut Piaget (1972), proses berpikir merupakan fungsi kritis dalam kehidupan yang memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal ini Piaget (1972) Piaget, telah menemukan bahwa, “Anak mampu mendemontrasikan berbagai pengaruh mengenai relativitas dunia sejak lahir hingga dewasa”. Temuan ini lebih dikenal sebagai pendekatan klinis Piaget yaitu suatu sistem pengumpulan data melalui tanya jawab yang sepenuhnya untuk memahami proses berpikir.
Menurut Robert V. dan Cavanaugh (2007) dari Teori Garner menjelaskan 9 kecerdasan yang harus dimiliki anak kaitannya dengan perkembangan kognitif anak yaitu :
Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence) yang dapat berkembang bila dirangsang melalui berbicara, mendengar, membaca, menulis, berdiskusi, dan bercerita.
Kecerdasan Logika Matematika (Logico- Matematical Intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data dan bermain dengan benda-benda.
Kecerdasan Visual-Spasiai (Visual- Spasial Intelligence) yaitu kemampuan dalam memahami ruang yang dapat dirangsang melalui bermam balok-balok dan bentuk-bentuk geometri, melengkapi puzzle, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi) .
Kecerdasan Musikal (Musical /Rhythmic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada, birama, berbagai bunyi dan bertepuk tangan.
Kecerdasan Kinestetik (Bodily / Kinesthetic Intelligence) yang dapat dirangsang melalui gerakan, tarian, oiahraga, dan terutama gerakan tubuh.
Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence) yaitu mencintai keindahan alam, yang dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, siang-malam, panas- dingin, bulan-matahari.
Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia (berkawan) yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerjasama, bermain peran, dan memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence) yaitu kemampuan memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri, termasuk kontrol diri dan disiplin.
Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) yaitu kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan tuhan, yang dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masa kanak-kanak pada usia Usia 4 – 6 tahun merupakan masa peka, dimana anak mulai sensitif menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang ada. Pada masa peka terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang di berikan oleh lingkungannya. Masa usia 4 – 6 tahun adalah dasar pertama perkembangan kemampuan fisik (motorik), kognitif, bahasa, sosia,l emosional, dan kognitifnya. Oleh karena itu pada masa ini dibutuhkan kondisi dan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak akan tercapai secara optimal.
Pada masa usia 4 – 6 tahun pertama perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan (The Golden Years) karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak sedang berkembang dengan cepat. Pada masa itu perkembangan kemampuan anak akan sangat terlihat pada pada kemampuan fisik dan kognitifnya. Proses perkembangan kemampuan fisik anak berhubungan dengan proses tumbuh kembangnya motorik anak, sedangkan proses perkembangan kognitif berhubungan dengan proses kematangan cara berpikir anak.
Ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik anak pada usia dini yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat gerakan agar tidak melakukan kesalahan kembali pada gerakan berikutnya. Sedangkan pada masa autonomous gerakan yang ditampilkan merupakan respon yang lebih efisien untuk mengurangi sedikit mungkin kesalahan (anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis).Perkembangan motorik anak terdiri dari tiga unsur utama yang sangat dominan yaitu :
Perkembangan anatomis, perkembangan ini ditunjukkan adanya perubahan kuantitas struktur tulang dan tinggi badan. Perkembangan motorik anak nampak dengan bertambahnya jumlah tulang yang secara langsung berpengaruh pada struktur tubuh secara keseluruhan.
Perkembangan fisiologis, perkembangan ini ditunjukkan adanya perubahan dari sistem kerja organ tubuh seperti kontraksi otot, peredaran darah, pernafasan, pencernaan, dan lain-lainnya.
Perkembangan prilaku, perkembangan ini merupakan koordinasi fungsional antara persyarafan dan otot serta fungsi kognitif, afektif, dan konatif.
Perkembangan kognitif terjadi melalui proses yang dia disebut dengan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses dimana anak berupaya untuk menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada interprestasinya, sedangkan akomodasi penyesuaian struktur berpikir dengan sejumlah pengalaman baru.
Saran
Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi dosen pembimbing dan kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena saya hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Metodik Khusus Pengembangan Keterampilan di TK. Depdiknas: Jakarta
Setiawani. Dr. Marry, 2003, Menerobos Dunia Anak. Bandung
http://mariaindarsih.blogspot.com/2012/05/perkembangan-anak-usia-4-6-tahun.html
Hurlock. Elizabeth B, 1978, Perkembangan Anak. Jakarta
Setiawani. Dr. Marry, 2000, Pembaruan Mengajar. Bandung
Susanto, A, 2011, Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Mantap min
BalasHapusTerimakasih min sangat membantu
BalasHapusTerimakasih sangat membantu ��
BalasHapusMantaaappp min, sangat membantu saya, semoga bermanfaat untuk orang banyak jugaa
BalasHapusSangat bermanfaat ☺
BalasHapusThank you min
BalasHapusKak mau tanya.
BalasHapusItu dlm blog ada pembahasan tentang usia 4-6 tahun anak akan mengalami masa peka atau sensitif. Nah kak yang dimaksud dengan masa peka atau sensitif tu yang bagaimana ya kak?
Mantap kak, sangat bermanfaat
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIni bermanfaat, terimakasih kak.
BalasHapusSangat membantu. Terimakasih^^
BalasHapus