Makalah Perkembangan Anak Usia 0-4 tahun

MAKALAH
PERKEMBANGAN ANAK USIA 0-4 TAHUN
Disajikan Untuk Memenuhi Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
Disusun Oleh:
Kelompok III

1. Novita Utami ( 1720201098)
2. Pitriani (1720201102)
Dosen Pengampuh:
Saipul Annur,  M. Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

 Latar Belakang
Setiap individu yang dilahirkan akan mengalami fase atau masa untuk menjalani kehidupannya. Masa yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya. Setiap masa atau fase pun memiliki tugas dan peran yang berbeda. Hal ini tentu dipengaruhi oleh usia yang lambat laun semakin beranjak dewasa. Tiap-tiap individu sudah seharusnya menjalani dan menyelesaikan setiap tugas perkembangannya sesuai fase yang tengah dialami.
Berbicara perkembangan anak terutama pada anak usia dini dari umur 0-4 tahun. Kedua orang tua harus mempunyai kemapuan lebih dalam menjaga anak pada usia tersebut. Pada pokok ini lah kita harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan baik dalam aspek fisik, kognitif, bahasa, maupun aspek sosio-emosional serta peran orang tua dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan perkembangan ?
Bagaimana perkembangan anak usia 0-4 tahun ?
Apa saja aspek-aspek perkembangan pada anak usia 0-4 tahun ?
Bagaimana pemberian stimulasi dari orang tua ?

Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan
Agar dapat memahami bagaimana perkembangan anak usia 0-4 tahun
Agar dapat mengetahui apa saja aspek-aspek perkembangan pada anak usia 0-4 tahun
Untuk mengetahui bagaimana pemberian stimulasi dari orang tua
BAB II
PEMBAHASAN

Perkembangan
Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan tahap perubahan yang terjadi pada individu dan dinilai secara fisik, psikis, sosial, dan lainnya. Perkembangan yang paling cepat dan terkait pada banyak komponen terjadi pada usia anak- anak. Proses perkembangan dimasa ini masih bisa dipengaruhi oleh faktor faktor dari luar yang membantu membentuk karakter dan komponen perkembangan lainnya agar menjadi pribadi yang baik.
Pengertian perkembangan menurut umum. “Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional”
Pengertian psikologi perkembangan. “Psikologi perkembangan adalah bagian psikologi yang secara khusus mempelajari pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik, kognitif maupun psikososial manusia sejak masa konsepsi sampai kematian”.
Pengertian Perkembangan Menurut Para Ahli
Monks, dkk
Monks, dkk menyatakan perkembangan merupakan suatu proses menuju kesempurnaan yang tidak bisa terulang kembali. Perkembangan diartikan sebagai suatu perubahan yang bersifat tetap dan tidak bisa kembali. misalnya perkemangan secara fisik, perubahan bentuk dan fungsi fisiologis akan berubah sejak anak- anak dan terus tumbuh ke arah menjadi manusia dewasa.
Seifert dan Hoffnung
Mereka mengartikan perkembangan sebagai perasaan yang tumbuh pada seseorang dan mengakibatkan perubahan jangka panjang, pola berfikir, hubungan sosial, dan skil motorik. Seifert dan Hoffnung melibatkan beberapa unsur dalam perkembangan. Pada anak, perkembangan mengakibatkan perubahan pada kematangan tingkat berfikir, interaksi sosial, dan semakin matangnya fungsi motorik.
Prinsip Perkembangan
Perkembangan tidak terbatas. “Artinya tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambung. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendiri-sendiri”
Perkembangan dimulai dari respon-respon yang bersifat umum menuju ke yang khusus. “Contohnya, seorang bayi mula-mula akan bereaksi tesenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, ia mulai bisa membedakan wajah-wajah tertentu”.
Perkembangan manusia merupakan totalitas. “Sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain”.
Perkembangan yang berlangsung secara berantai. “Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara kedua fase dengan fase lainnya, tahapan perkembangan ini bersifat universal. Perkembangan bicara misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata-kata terlebih dahulu ia akan mengoceh”.
Perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas. “ Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai dengan yang sebenarnya merupakan tingkah laku yang wajar untuk fase tertentu itu”
Perkembangan mengikuti pola yang pasti, maka perkembang dapat diperkirakan. “Seorang anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang ‘kurang’ dari anak lain, dalam perkembangan selanjutnya akan menampakkan suatu kecenderungan perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak lain seusianya”.
Pendekatan Perkembangan
Fisik. Suatu perkembangan tubuh, jasmani individu yang diikuti dengan aktivitas dirinya terhadap suatu benda dan lingkungannya. Individu dalam rentang kehidupannya dari tahun-tahun pertama hingga tahun-tahun berikutnya mencapai masa akil balig mengalami pertumbuhan dan perubahan yang pesat. Pertumbuhan menunjukkan bahwa setiap individu mempunyai periode perkembangannya sendiri-sendiri. Walaupun didapati adanya norma-norma perkembangan yang sifatnya normal.
Oleh karena itu perkembangan fisik merupakan suatu proses ativitas indiividu dengan pertumbuhan yang terkoordinasi diantara jasmani, fisiologi, dan psikologi. Pertumbuhan jasmani terlihat pada usia 3 tahun, yaitu proposisi badan dan jaringan urat daging yang berkembang sampai usia 5 tahun. Perkembangan fisik jasmani ini tidak akan terlepas dari adanya perkembangan anak itu sendiri. Yaitu berhubungan dengan kekuatan badannya, maka anak dapat menyandarkan seluruh tubuhnya pada satu kaki. Sehingga anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usia kematangan secara fisiologis dan psikologisnya.
Kognitif. Perkembangan kognitif sangat ditentukan oleh perkembangan otak dan panca indera sebagai pengamatnya. Perilaku yang mengakibatkan anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman sesuatu yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan adalah kognitif. Piaget mengatakan “perkembangan anak lebih banyak dipengaruhi oleh kognitif, yaitu mengenal, mengerti dan memahami dengan menggunakan berfikir dan pengamatan.” Sehingga dapat dikatakan bahwa kognitif anak merupakan suatu sistem untuk menghasilkan suatu pengetahuan dengan cara memasukkan informasi dari luar dirinya atau stimulus yang masuk ke dalam reseptor panca indra, pengamatan, dan pendengaran.
Psikososial. Psikososial merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Secara umum pengertian perasaan adalah suasana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, suka dan duka, baik dan buruk. Namun perasaan anak seringkali berbeda dalam mewujudkan perasaanya. Contohnya, dua anak yang mempunyai perasaan takut terhadap binatang kecoa. Anak pertama takut terhadap binatang kecoa, karena binatang kecoa yang menjijikan, sedangkan anak yang kedua merasa geli bila disentuh kakinya.
“Dari suasana afektif yang ada pada individu tersebut, maka perkembangan afektif pada individu terjadi karena adanya sesuatu yang terjadi pada saat mengalami, melihat, menghadapi, mendengar, dan merasakan suatu situasi yang terjadi padanya”
Faktor-Faktor Pengembangan
Bakat atau pembawaan. Anak dilahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat diumpamakan sebagai bibit kesanggupan atau bibit kemungkinan yang terkandung dalam diri anak. Setiap anak memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya, seperti bakat musik, seni, agama, akal yang tajam dan sebagainya. Anak yang mempunyai bakat musik misalnya, niscaya minat dan perhatiannya akan sangat besar terhadap musik. Dengan demikian jelas bahwa bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak.
Sifat-sifat keturunan. Sifat anak diturunkan dari orang tua atau nenek moyang dapat berupa fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka, bentuk badan, suatu penyakit. Sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, pemarah, pendiam, dan sebagainya. Dengan demikian jelas bahwa sifat-sifat keturunan itu menentukan perkembangan seseorang.
Pengalaman. Pengalaman dengan heriditas fisik merupakan dasar perkembangan struktur kognitif. Dalam hal ini sering kali disebut sebagai pengalaman fisis dan logika matematis. Kedua pengalaman ini secara psikologi berbeda. Pengalaman fisis melibatkan objek yang kemudian membuat abstraksi dari objek tersebut. Sedangkan pengalaman logika matematis merupakan pengalaman di mana diabstraksikan bukan dari objek melainkan dari akibat tindakan terhadap objek.
Transmisi sosial. Transmisi sosial digunakan untuk mempresentasikan pengaruh budaya terhadap pola berpikir anak. Penjelasan dari guru, orang tua, informasi dari buku, meniru, merupakan bentuk transmisi sosial. Kebudayaan memberikan hal-hal penting bagi perkembangan kognitif, seperti dalam membaca, dapat menerima transmisi sosial apabila anak dalam keadaan mampu menerima informasi. Untuk menerima informasi itu terlebih dahulu anak harus memiliki struktur kognitif yang memungkinkan anak dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi tersebut.
Ekuilibrasi. Merupakan keadaan di mana diri setiap anak terdapat proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan ketiga faktor tadi, yaitu heriditas, pengalaman, dan transmisi sosial. Alasan yang memperkuat adanya ekuilibrasi, yaitu di mana anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan. Akibat dari interaksi itu anak berhadapan dengan kontradiksi, yaitu apabila situasi pada pola penalaran yang lama tidak dapat menanggapi stimulus. Kontradiksi ini menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang. Dalam keadaan ini individu secara aktif mengubah pola penalarannya agar dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan stimulus baru yang disebut ekuilibrasi.

Perkembangan Anak Usia 0-4 Tahun
Proses Perkembangan Anak Dari Usia 0-4Tahun
Secara fisik perkembangan fisik anak selalu berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi anak-anak. Proses perkembangan fisik anak pada usia 0-1 tahun, yaitu :
Meraih benda
Bertepuk tangan
Berjalan sambil berpegangan pada meja
Proses perkembangan fisik anak pada usia 1-2 tahun, yaitu:
Berjalan tanpa bantuan
Mulai berlari
Melambaikan tangan
Menendang bola
Proses perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun, yaitu:
Memanjat
Memegang pensil seperti menulis
Mengayuh sepeda roda tiga
Proses perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun, yaitu:
Dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki
Gigi susu sudah lengkap
Tahapan yang dilalui anak dalam mengembangkan kemampuan sosial
Semua bayi yang terlahir di dunia ini pasti merasakan proses berinteraksi dengan orang lain. Tak hanya menerima respon, si kecil juga perlahan belajar untuk menanggapi respon. Coba perhatikan, bagaimana sang buah hati membelalakkan matanya saat mendengar suara Bunda atau cemberut saat melihat orang kesayangannya menjauh. Meski begitu butuh waktu sedikit lebih lama bagi anak untuk dapat membuat suatu ikatan persahabatan atau merasa nyaman dengan kehadiran orang baru dalam hidupnya. Tahapan apa saja yang nantinya akan dilalui si kecil dalam usahanya mengembangkan kemampuan sosialnya.
Bayi
Usia 0-3 bulan
Dalam beberapa hari setelah lahir ke dunia, interaksi pertama bayi kemungkinan besar adalah melakukan kontak mata dengan Anda, berceracau, dan membuat ekspresi muka tertentu. Dalam jangka waktu dua bulan, si kecil akan mulai menunjukkan senyum pertamanya dan mencoba menirukan mimik muka yang Bunda tunjukkan. Nah jadi jika ingin ia menunjukkan ekspresi bahagia maka sering-seringlah tersenyum agar ia juga cepat meniru!
Usia 3-6 bulan
Pada usia ini, bayi Anda sudah dapat mengenali dan merespon ketika namanya dipanggil. Ia pun juga merasa senang saat harus berinteraksi dengan orang baru. Ketika diharuskan untuk berpisah sebentar dengan orang-orang yang ia sayangi, bayi pun perlahan memahami konsep tersebut. Beberapa bayi cenderung lebih memiliki jiwa sosial dibanding yang lainnya. Ada yang mudah sekali tersenyum pada orang asing, ada juga yang hanya terpaku memandang wajah orang tanpa tersenyum. Apabila bayi Bunda menunjukkan sedikit sekali ketertarikan terhadap orang lain, maka jangan buru-buru cemas atau memaksanya untuk lebih banyak bergaul dengan anak tetangga. Kemungkinan besar si kecil hanya kurang pengalaman mengenai interaksi sosial di luar hubungannya dengan Bunda dan suami. Pelan-pelan, kenalkanlah ia dengan orang-orang lain mulai dari sahabat, tante, hingga teman-teman sebayanya.
Usia 6-9 bulan
Bayi Anda mulai menunjukkan rasa enggan berpisah dan cemas apabila harus berjauhan dengan Bunda. Pasalnya, ia lebih memilih dekat dengan wajah-wajah yang familiar dan menunjukkan rasa aman. Pada usia ini, bayi suka sekali apabila diajak main cilukba, jadi sesekali lakukan permainan ini ketika ia mulai terlihat bosan. Bayi usia 6-9 bulan juga mulai tertarik dengan tingkah laku bayi lain. Ia menunjukkan rasa penasarannya dengan cara menatap, menarik, hingga menggelundung ke arah teman sebayanya.
Usia 10-12 bulan
Bayi Anda mulai merasa senang dengan kehadiran anak lain di taman bermain, namun ia belum berani mengajak anak lain bermain bersama. Bayi lebih suka melihat apa yang dilakukan oleh bayi lainnya sembari berusaha menirukan apa yang dilihatnya. Sayangnya, rasa enggan berpisah dengan Bunda pun perlahan semakin meningkat dan membuatnya semakin cemas apabila harus berhadapan dengan orang asing.
Nah, untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial anak, Anda dapat mendaftarkannya ke playgroup atau mengajaknya ke pertemuan Ibu dan anak di kota Bunda. Berkumpul dengan teman sebaya perlahan akan mengajarinya cara berkomunikasi dengan orang lain sejak dini.
Batita
Usia 13-18 bulan
Kini bayi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda mampu berbicara yang tentunya penting bagi perkembangan kemampuan sosialnya. Meski begitu, ia masih merasa nyaman dengan parallel play atau sekedar melihat anak lain bermain lantas meniru apa yang anak lain lakukan. Pada usia ini pula, kesabaran Bunda mau tidak mau harus diuji. Sebab, bayi sedang dalam puncak-puncaknya merasa mudah cemas dan ketakutan saat harus berpisah dengan Anda.
Usia 19-24 bulan
Sang buah hati mulai bisa menunjukkan perhatiannya melalui pelukan dan ciuman. Meksi begitu, ada juga bayi yang lebih memilih cuddle sebagai kegiatan favoritnya. Pada usia ini, bayi akan cepat merasa tertarik dengan sesuatu namun cepat pula menarik diri. Bahkan, ada bayi yang mulai menunjukkan tanda-tanda kemarahan seiring berjalannya waktu. Ia mungkin akan merasa malu saat harus berinteraksi dengan orang dewasa yang tak ia kenal.
Bayi juga akan mulai ikut serta dalam permainan atau kegiatan bayi lainnya, namun maklumi saja ya Bun kalau si kecil maish belum terbiasa untuk berbagi. Kemungkinan besar, ketika mainannya dirampas, ia akan menjerit atau menangis histeris. Jadi, tunggui anak ketika sedang bermain agar dapat cepat-cepat menenangkan sang buah hati apabila barangnya diusik.
Usia 2-3 tahun
Ketika sudah mulai memahami konsep berinteraksi, maka anak pun mulai menunjukkan ketertarikanya kepada satu atau dua teman sebaya favoritnya. Bahkan, jangan terkejut apabila anak menunjukkan tanda-tanda memiliki teman khayalan. Selain itu, anak pun mulai menunjukkan rasa penasaran akan perasaan karakter-karakter dari dongeng yang Anda bacakan. Perlahan, anak juga akan mulai belajar tentang konsep berbagi dan bersabar, meski perkembangannya tidak terlalu signifikan. Beberapa anak juga menjadi lebih agresif dari waktu ke waktu dan suka memukul, menjambak, atau menggigit orang lain demi melindungi daerah kekuasaannya serta barang-barang yang ia anggap berharga.
Keagresifan anak tersebut jangan diartikan bahwa si kecil ini nakal ya, Bun. Sebab, amarahnya bisa jadi timbul dari rasa frustasi karena ketidakmampuannya mengungkapkan apa yang ia mau atau rasakan melalui kata-kata. Tak hanya itu saja, menginjak usia 3 tahun, anak juga mulai belajar mengenali dan merasakan emosi orang lain. Walaupun, tentunya belum bisa dibilang bahwa ia mampu berempati atau menempatkan diri di kondisi orang lain layaknya orang dewasa. Anak Anda hanya baru dapat membaca emosi orang lain, misalnya ia akan ikut menangis ketika melihat Bunda menangis. Si kecil juga sangat senang dengan kehadiran orang dewasa di sekelilingnya, terlebih berada di antara wajah-wajah familiar yang ia sayangi. Jangan ragu untuk meminta bantuan ahli apabila anak menunjukkan perilaku marah atau agresif tak terkendali yang tidak sesuai dengan perkembangan normal anak seusianya. Terlebih apabila sikap agresif dan mudah marah si kecil sampai mempengaruhi aktivitas hariannya, maka Bunda sebaiknya mencari pertolongan dokter.
Preschooler
Usia 3-4 tahun
Sang buah hati akan menunjukkan rasa percaya diri serta kemandirian yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, tak berarti ia sudah tidak lagi membutuhkan perhatian dan perlindungan Bunda. Sesekali ia akan bersikap manja dan cari perhatian. Namun, di lain waktu, anak juga ingin terlihat mandiri di depan Anda. Ia mulai memahami konsep hubungan sosial dan mekanisme kerjanya dengan cara mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Observasi tersebut membuat sang buah hati belajar lebih cepat. Oleh karena itu, Bunda sebaiknya membuka jalan agar anak bertemu dengan orang-orang baru terutama yang sebaya dengan si kecil agar ia semakin banyak belajar hal baru. Pada usia ini, anak sudah merasa nyaman bermain dengan orang lain maupun sendirian. Sesekali ia akan terliat pertengkaran, namun hal tersebut wajar saja. Si kecil pun sudah mulai nyaman dengan permainan yang terstruktur seperti board games maupun bermain dalam grup. Kemampuan berbagi dan bersabar juga akan perlahan meningkat.

Aspek-Aspek Perkembangan Pada Anak Usia 0-4 Tahun
Mengenai perkembangan manusia hal ini tidak dapat lepas dari beberapa aspek seperti perubahan dalam dirinya. Secara garis besar perkembangan manusia itu dilandasi beberapa aspek seperti aspek fisik (psikomotorik), aspek kognitif, aspek bahasa, dan apek sosioemosional.
Aspek fisik
Mengenai aspek fisik ini sangatlah dapat kita lihat perubahan-perubahan tersebut dari luar tubuh manusia maupun didalam tubuh. Ketika perubahan fisik anak perlu di cermati secara intens, karena apabila terdapat yang kurang terhadap pertumbuhan anak, itu dapat menjadi suatu  tanda dari anak. Perubahan-perubahan fisik ini dapay kita lihat dari konsep awal, hingga menjadi bayi dan tumbuh menjadi anak-anak. Perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik luar dapat kita lihat seperti tinggi, berat dan sebagainya. Selain itu perubahan-perubahan internal juga termasuk dalam aspek perkembangan secara fisik dengan semakin kuatnya jaringan otot dan sistem syaraf sehingga mampu meningkatkan kapasitas hormon dan kelenjar maupun keerampilan motorik.mengenai perkembangan saragf motor ini menjadi model awal bagi seseorang anak ingin melakukan suatu kegiatan. Dalam perkembangan saraf motor ini terbagi menjadi dua yaitu :
Motor kasar
Gerak fisik yang membutuhkan suau kooordinasi antar jaringan otot-otot besar dengan anggota seluruh tubuh dengan menciptakan keseimbangan. Misalnya, dalam gerakan berjalan, berlari, dan melompat.
Motorik halus
Ini merupakan gerakan kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan dengan fisik yang melibatkan anatara oot halus dengn tangan dan mata. Misalnya dapat diperdalam dengan bermain puzzle.
Dalam konteks perkembangan motorik seorang bayi atau anak, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik tersebut. Yaitu :
Perkembangan usia
Tercapainya kematangan organ-organ fisiologis
Kontrol kepala
Kontrol tangan
Kontrol kaki
Lokomosi
Perubahan fisi ini sasngatlah dipengaruhi oleh kesehataan, gizi dan nutrisi. Setiap perubahan fisik yang terjadi hal ini pasti berpengaruh pada aspek lain seperti konitif, bahasa, dan sosio-emmosional.
Aspek kognitif
Dalam perkembangan kognitif berhubungan dengan meningkatnya kemampuan berpikir memecahkan masalah, mengambil keputusan, kecerdasan, bakat. Kematangan fisiologis ini merupakan hal yang penting dalam perkembangan kognitif, sehina perkembangan kognitif makin baik dan koordinatif.
Aspek bahasa
Bahasa merupakan suau alat komunikasi.kita sebagai makhluk sosial mesinya  harus berkomunikasi satu sama lain. Bayi merupakan makhluk premitif dalam perkembangan bahasa. Pada dasarnya bayi belum dapat berkata-kata maupu berbicara kepada sesama manusia. Dengan meningkatkan kemampuan berbicara ataupun berbahasa harus mampu dalam kematangan fisiologis, dan perkembangan sistem syaraf dalam otak supaya anak dapat berfikir, dan melakukan komunikasi dengan baik.
Perkembangan berbahasa anak pasti melalui masa awal dimana anak hanya dapat menangis, berteriak, mengoceh, dan meniru kata-kata. ketika anak dilahirkan di dunia ini, menangis merupakan suatu ungkapan komunikasi awal dari anak, maupun rasa terkejutnya anak dengan perbedaan suasan ketika didalam kandungan ibu dengan keadaan dunnianya sekarang. Kemudian anak dapat berteriak dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Dan selanjutnya anak dapat mengoceh dengan kata-kata yang pernah didengarnya seperti pa pa pa, ma ma ma. Dengan mengoceh anak sudah bisa mengfungsikan organ-organ seperti lidah, tenggorokan, dan pernapasan dalam mengeluarkan kata-kata tersebut. Tetapi dengan anak yang mempunyai keterbatasan dalam pendengaran maupun dalam berucap, ia akan sulit dalam berkomunikasi dengan sesama manusia, kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat (gesture).
Bahasa isyarat merupakan bahasa komunikasi dengan menggerakan anggota tubuh seperti tangan, kepala, ekspresi wajah. Dengan bahasa isyarat ini kadangkala membuat orang tua menjadi lebih peka dengan kondisi si anak
Aspek Sosio-Emosional
Emosi merupakan bagian dari aspek afektif yang mempunyai pengaruh besar terhadapkepribadian dan prilaku seseorang. Pada hakekatnya emosi bersifat fluktuatif dan dinamis, artinya perubahan emosi sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya. Ada dua emosi yang dikenal pada anak usia tiga tahun pertama, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif ini merupakan suatu keadaan perasaan yang membuat anak menjadi senang, bahagia, bersemangat dan percaya diri untuk melakukan sesuatu. Sedangkan emosi negatif merupakan ungkapan perasaan-perasaan yang cendrung membuat anak menjadi tidak nyaman.

Pemberian Stimulasi dari Orang Tua
Dalam perkembangan anak di usia 0-4 tahun sesungguhnya membutuhkan perhatian orang tua dan kasih sayangnya. Dengan adanya perhatian dan kasih sayang itulah anak bisa mengembangkan aspek-aspek fisiologis, kognitif, bahasa, maupun sosio-emosional. Dalam asuhan orang tua anak bisa mendapatkan pembelajaran berarti atau pun mendapatkan suatu yang membuat anak menjadi tidak nyaman. Menurut Baumrind ada empat jenis pola asuh. Yaitu: otoriter, Permisif, Demokratis, situasional.
Dalam pemberian stimulasi dari orang tua itu sangat dibutuhkan anak. Orang tua dapat melakukan kegiatan seperti berkomunikasi atau mendongeng, mendengarkan musik, bermain sambil belajar, memberikan penghargaan terhadap anak, menjamin kebutuhan dasar secara layak dan memadai, menyediakan waktu khusus untuk anak, memberikan dukungan sosial dan dorongan kepada anak-anak untuk melakukan aktivitas dan bermain tanpa ada rasa takut salah.


KESIMPULAN

Perkembangan merupakan tahap perubahan yang terjadi pada individu dan dinilai secara fisik, psikis, sosial, dan lainnya. Secara fisik perkembangan fisik anak selalu berubah-ubah setiap tahunnya dari bayi hingga tumbuh menjadi anak-anak. Proses perkembangan fisik anak pada usia 0-1 tahun, yaitu Meraih benda,Bertepuk tangan, dll. Proses perkembangan fisik anak pada usia 1-2 tahun, yaitu: Berjalan tanpa bantuan, Mulai berlari, dll. Proses perkembangan fisik anak pada usia 2-3 tahun, yaitu: Memanjat, Memegang pensil seperti menulis, dll Proses perkembangan fisik anak pada usia 3-4 tahun, yaitu: Dapat berdiri dan melompat dengan satu kaki, Gigi susu sudah lengkap, dll.
Secara garis besar perkembangan manusia itu dilandasi beberapa aspek seperti aspek fisik (psikomotorik), aspek kognitif, aspek bahasa, dan apek sosioemosional. Dalam perkembangan anak di usia 0-4 tahun sesungguhnya membutuhkan perhatian orang tua dan kasih sayangnya. Dengan adanya perhatian dan kasih sayang itulah anak bisa mengembangkan aspek-aspek fisiologis, kognitif, bahasa, maupun sosio-emosional. Dalam asuhan orang tua anak bisa mendapatkan pembelajaran berarti atau pun mendapatkan suatu yang membuat anak menjadi tidak nyaman.



DAFTAR PUSTAKA

Baraja, A. 2008. Psikologi Perkembangan Tahapan-Tahapan Dan Aspek-Aspeknya Dari 0 Tahun Sampai Akil Baligh. Jakarta: Studia Press.
Dariyo, Agoes. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung : PT Refika Aditama.
Gunarsa, S. D Dan Gunarsa,Y. S. D. 2004. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Susanto, A. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  Mahmud, H. 2012. Psikologi Pendidikan. Bandung : CV. Pustaka Setia.

Komentar

  1. MasyaAllah 😍 terimakasih ukhti😍ilmunya sangat bermanfaat😍

    BalasHapus
  2. Luar biasa infonya sangat membantu

    BalasHapus
  3. Terimakasih infonya. Bisa dijadikan referensi saat membuat makalah

    BalasHapus
  4. Maaf kak boleh mengajukan pertanyaan tidak ya?

    BalasHapus
  5. Terima kasih infonya sangat membantu

    BalasHapus
  6. Terimakasih sangat membantu <3

    BalasHapus
  7. Terima ksih, informasi makalah ny sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Perkembangan Anak pada Masa Kanak-kanak Kanak 4-6 Tahun

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK MASA NATAL DAN POS NATAL

Makalah psikologi perkembangan anak: Masa Anak atau Masa Sekolah (7-12 tahun)