Makalah Psikologi Perkembangan Anak

BELAJAR DAN PERKEMBANGAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak

Disusun Oleh Kelompok 9 :

Dewi Wulandari (1720201075)
Meinawati Dewi (1720201091)

Dosen pengampu
Saipul Annur, M.Pd

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM  NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2019



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “Psikologi Perkembangan Anak”.
Makalah ini merupakan inovasi pembelajaran untuk belajar dan perkembangan, semoga makalah ini dapat berguna untuk Mahasiswa pada umumnya dan semua pihak yang membaca. Dan juga kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pak Saipul Annur, M.Pd selaku dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak, atas materi dan pengarahannya selama penyusunan laporan ini serta pihak-pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pada intinya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang lebih baik lagi.

Palembang,    April 2019

Kelompok 9


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang 1
Rumusan masalah 1
Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Belajar 3
Terori Pokok Belajar 4
Proses Dan Fase Belajar 5
Pengertian Perkembangan 8
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan 9
Perkembangan Psiko-Fisik Siswa 11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 22
Saran 22
DAFTAR PUSTAKA 23






BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Potensi diri, pengendalian diri, kecerdasan, dan kepribadian yang luhur dapat menambahkan motivasi anak dalam proses belajar anak. Mendengar kata ‘belajar’ bagi kita , tentulah sangat tidak asing lagi. Semenjak kita terlahir dan kita dianggap mengerti akan arti kata itu, hampir tiada hari terlewat tanpa terdengar ucapan kata tersebut. Belajar merupakan salah satu aktivitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan dalam diri seorang anak, baik dalam pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.Secara umum kegiatan belajar adalah suatu proses kegiatan dari tidak tahu, tidak mengerti, tidak bisa menjadi tahu, mengerti dan bisa secara optimal. 
Setiap kegiatan belajar akan menghasilkan suatu perubahan pada anak. Terjadinya perubahan tersebut karena adanya pertumbuhan dan perkembangan. Dan jika seseorang tidak dapat mengikuti pertumbuhan dan perkembangan itu maka belajar seseorang akan kurang maksimal. Karena perkembangan adalah suatu perubahan-perubahan kearah yang lebih maju dan dewasa dan perubahan-perubahan itu juga didukung dengan kematangan fisik seseorang atau yang disebut dengan pertumbuhan. 

Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :
Apa yang di maksud dengan belajar?
Teori apa yang digunakan untuk belajar ?
Bagaimana proses dan fase belajar ?
Apa yang dimaksud denganPerkembangan ?
Apa Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan ?
Bagaimana Proses Perkembangan Psiko-Fisik Siswa ?

Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui pengertian belajar.
Untuk mengetahui teori apa saja yang digunakan untuk belajar.
Untuk mengetahui proses serta fase belajar.
Untuk Mengetahui Pengertian Perkembangan.
Untuk Mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan.
Untuk Mengetahui Proses Perkembangan Psiko-Fisik siswa.
















BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Belajar
Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Belajar adalah kunci yang paling penting dalam setiap usaha pendidikan. Tanpa belajar sesungguhnya tidak ada proses pendidikan. Belajar selalu mendapatkan tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan. Karena demikian penting arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal dan ideal, kemampuan para pendidik terutama guru dalam membimbing murid-muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profisiensi (berkemampuan tinggi) dalam menunaikan/menjalankan kewajibannya, harapan terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sudah tentu akan tercapai.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi belajar menurut beberapa ahli:
Menurut Nasution, Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
Ernest H. Hilgard, Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu situasi daripada sebelum itu.
Notoatmodjo, Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup.
Ahmadi A., Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia.

Teori Pokok Belajar
Koneksionisme
Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874/1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahi fenomena belajar.
Seekor kucing yang lapar ditempatkan di dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi.
Keadaan bagian di dalam sangkar yang disebut puzzle box atau peti teka-teki itu merupakan situasi stimulus yang meransang kucing untuk bereaksi. Melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu. Mula-mula kucing tersebut akan mengeong, mencakar, dan melompat. Namun gagal membuka pintu sangkar. Akhirnya, entah bagaimana, secara kebetulan kucing tersebut berhasil membuka pengungkit dan bisa mendapatkan makanan.
Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons.
Pembiasaan Klasik
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning)  ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil mendapatkan Nobel pada tahun 1909 memiliki cara sebagai berikut :
Seokor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, Sehingga kelenjar ludahnya berada diluar pipinya, dimasukkan kekamar yang gelap. Dikamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak  didepan moncongnya, tempat menyodorkan makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Pada moncongya yang sudah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung di luar kamar. Dengan demikian dapat dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Alat-alat yang dipergunakan dalam percobaan-percobaan itu  ialah makanan, lampu senter untuk menyorotkan bermacam-macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dari hasil percobaan-percobaan pavlovmendapatkan kesimpulan bahwa gerakan-gerakan refleksitu dapat dipelajari; dapat berubah karena mendapat latihan.
Teori Pendekatan Kognitif
Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi konstribusiyang sangat berarti dalam perkembangan psikologi pendidikan. Sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri atas psikologi kognitif, ilmu-ilmu computer, linguistic, intelegensi buatan, matematika, epistomologi, dan psikologi syaraf.
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tinkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti : motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya.
Dari uraian contoh-contoh diatas, semakin jelaslah bahwa perilaku belajar itu, dalam hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar peristiwa S-R Bond (ikatan antara stimulus dan respons) melainakan lebih banyak melibatkan proses kognitif. Hanya dalam peristiwa belajar tertertentu yng sangat terbatas ruang lingkupnya (umpamanya belajar meniru sopan santun di meja makan dan bertegur sapa), peranan ranah cipta siswa tidak menonjol.
Proses Dan Fase Belajar
Pengertian Proses Belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa Latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah Any changes in any object or organism, particulary a behavioral or psychological change. (Proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan).
Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988). Jika kita perhatikan ungkapan  Any changes in any object or organism dalam definisi Chaplin di atas dan kata-kata “cara-cara atau langkah-langkah” dalam definisi Reber tadi, istilah “tahapan perubahan” dapat kita pakai sebagai padanan kata proses. Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kea rah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
Fase-Fase dalam Proses Belajar
Karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang antara satu dengan lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional.
Menurut Jerome S.Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond (Barlow, 1985), dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga fase.
Fase informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengeahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap transformasi, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas. Bagi siswa pemula, tahap ini akan berlangsung sulit apabila tidak disertai dengan bimbingan anda selaku guru yang diharapkan kompeten dalam mentransfer strategi kognitif yang tepat untuk melakukan pembelajaran tertentu.
Fase evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransfornasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi.
Menurut Arno F Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
Acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi)
Acquisition seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pila asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses acquisition dalam belajar merupakan tahap paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Storage (tahap penyimpanan informasi)
Pada tingkatan storage seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia proleh ketika menjalani proses acquitision. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori. Pada tingkatan retrieval seorang siwa akan mengaktifkan kembai fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah.
Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)
Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.

Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah suatu perubahan ke arah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara garis besarnya perkembangan adalah suatu proses, dalam perkembangan terdapat beberapa aliran yaitu:
Aliran asosiasi
Para ahli yang mengikuti aliran asosiasi berpendapat bahwa hakikatnya perkembangan itu adalah proses asosiasi. Salah satu tokoh yang terkenal adalah  John Locke. Locke berpendapat bahwa pada permukaan  jiwa anak adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri. Dalam hal ini Locke membedakan adanya dua macam pengalaman yaitu:
Pengalaman luar yaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indra, yang menimbulkan sensasi.
Pengalaman dalam yaitu pengalaman yang mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri, yang menimbulkan ”reflexion”.
Aliran psikologi Gestalt
Bagi para ahli yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan adalah proses differensiasi. Dalam proses differensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagiannya adalah  sekunder; keseluruhan ada lebih dahulu  baru disusul oleh bagian-bagiannya. Kalau kita ketemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus,atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan,sebagai gestalt; baru kemudian menyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti misalnya baju yang baru, vulpen yang bagus, dahi yang terluka, dan sebagainya.
Aliran sosiologis
Aliran ini menganggap bahwa perkembangan adalah proses sosialisasi . James Mark Badwin menerangkan perkembangan sebagai proses sosialisasi dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi dan seleksi berlangsung atas dasar hukum efek (law off effect) tingkah laku pribadi diterangkan sebagai imitasi.kebiasaan adalah imitasi terhadap diri sendiri, sedangkan adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain. Baldwin berpendapat, bahwa ada dua macam peniruan yaitu:
Nondeliberate imitation 
Misalnya anak anak-anak meniru gerakan-gerakan, sikap orang dewasa. 
Deliberate imitation 
Misalnya anak-anak berrmain “peranan sosial” yaitu misalnya menjadi ibu, penjual kacang, menjadi kondektur menjadi penumpang kereta api, dan sebagainya. Proses peniruan ini terjadi pada tiga taraf, yaitu:
Taraf yang pertama yaang disebut taraf proyektif (projective stage); pada taraf ini anak mendapatkan kesan mengenai model (objek) yang ditiru.
Taraf  yang kedua disebut taraf subyektif (subjective stage); pada taraf ini anak cenderung untuk meniru gerak-gerakan, atau sikap model atau obyeknya.
Taraf ketiga disebut taraf eyektif (ejective stage); pada taraf ini anak telah menguasai hal yang ditirunya itu; dia dapat mengerti bagaimana orang merasa, berangan-angan, berpikir dan sebagainya.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Nativisme
Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir ( natus artinya lahir). Tokoh utama aliran ini adalah Schopenhaur, pengikutnya Plato, Descartes, Lombroso dan lain-lain. Para ahli mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsepsi ini dengan menunjukan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan  anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik kemungkinan besar anaknya menjadi ahli musik.intinya keistimewaan-istimewaan yang dimiliki orang tua juga dimiliki anaknya.
Empirisme
Para ahli yang mengikuti pendirian Empirisme mempunyai pendapat yang langsung bertentangan dengan pendapat aliran nativisme. Aliran Empirisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata bergantung kepada faktor lingkungan, sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali. Tokoh utama daripada aliran ini adalah John Locke.
Konvergensi 
Paham ini berpendapat, bahwa didalam perkembangan individu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, tetapi bakat yang tersedia perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
Misalnya anak sulung, anak bungsu, anak tunggal, anak yang semua saudaranya berlainan jenis dengan dia sendiri, dan sebagainya, mereka itu menunjukan sifat-sifat yang khas bukan karena keturunan tetapi kedudukan mereka dalam struktur keluarga yang khas, yang menyebabkan adanya sikap yang khas dari orang-orang tua mereka serta anggota-anggota keluarga yang lain yang lebih dewasa. 
Kemiripan yang ada antara anak-anak dengan orang tua mereka tidaklah berakar pada dasar atau keturunan, melainkan berakar pada lingkungan, yaitu peniruan dalam perkembangannya anak menirukan orang-orang yang lebih dewasa dan pergaulannya terutama dengan orang tuanya, maka yang dijadikan objek atau model peniruan adalah orang tuanya.
Langeveld secara fenomenologis mencoba menemukan hal-hal yang memungkinkan perkembngan anak menjadi dewasa, ada empat azas dalam perkembangan yaitu:
Asas biologis
Anak adalah makhluk hidup, maka dia berkembang. Supaya perkembangan anak berlangsung dalam rangka   normal, maka keadaan biologisnya harus normal. Anak yang keadaan biologisnya cacat akan menunjukan kelainan-kelainan dalam perkembangan mereka. Terutama pada anak-anak yang masih muda dipenuhinya  secara normal kebutuhan-kebutuhan biologis merupakan hal yang mutlak, anak yang kekurangan makanan misalnya akan penyakitan, hal ini akan mengakibatkan lebih lambat perkembangannya.
Asas ketidak-berdayaan
Bahwa pada waktu dilahirkan anak manusia jauh sangat tidak berdaya jika kita bandingkan dengan anak hewan. Kalau hewan hidup menggunakan  instinkna karena hal demikian secara hakikatnya diperlukan untuk menjamin keberadaan didunia ini.
Asas keamanan 
karena ketidak-berdayannya itu pemenuhannya kebutuhan biologis saja belumlah mencukupi bagi anak manusia.anak yang telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya masih membutuhkan yang lain, yaitu rasa aman, rasa terlindungi, yang diterimanya dari pendidik. Inti dari perlindungan adalah kasih sayang dari orang tua. Kurangnya kasih sayang dapat mengganggu perasaan. Perlu diingat, bahwa pemberian perlindungan atau kasih sayang tidak boleh secara berlebihan akan berakibat si anak selalu menggantungkan diri kepada pendidik dan tidak berani berdiri diatas kedua kaki sendiri.
Asas Eksplorasi
Kenyataan keempat, eksplorasi ( penjelajahan) dilakukan oleh si anak berbagai cara: mula fungsi-fungsi jasmaniah (mulut, tangan, kaki, dan sebagainya) setelah anak bertambah umurnya maka eksplorasi dilaksankan dengan fungsi-fungsi pancaindra ,kemudian fungsi-fungsi kejiwaan (angan-angan, fantasi, pikiran, dan sebagainya). Didalam eksplorasi anak berkembang kearah kedewasaan. Kewajiban pendidik (orang tua) untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan eksplorasi.  
Perkembangan Psiko-Fisik Siswa
Sebagian ahli menganggap perkembangan sebagai proses yang berbeda dari pertumbuhan. Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jaasmaniahnya itu sendiri. Dengan kata lain, penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. Perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayatnya.
Sementara itu, pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia mencapai kematangan fisik (maturation). Artinya, orang tak akan brtambah tinggi atau besar jika batas pertumbuhan tubuhnya telah mencapai tingkat kematangan. Proses-proses perkembangan tersebut meliputi :
Perkembangan Motor (Fisik) Siswa
Perkembangan motor (motor development), yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dangan perolehan aneka ragam perolehan keterampilan fisik anak (motor skills).
Proses perkembangan fisik anak berlangsung kurang lebih selama dua dekade (dua dasawarsa) sejak ia lahir. Semburan perkembangan (sprurt) terjadi pada masa anak menginjak usia remaja antara 12 atau 13 tahun hingga 21 atau 22 tahun. Pada saat perkembangan berlangsung, beberapa bagian jasmani seperti kepala dan otak yang pada waktu dalam rahin berkembang tidak seimbang (tidak secepat badan dan kaki), mulai menunjukan perkembangan yang cukup berarti hingga bagian-bagian lainnya menjadi matang.
Menurut Gleitman (1987) ada dua bekal pokok yang dibawa anak baru lahir sebagai dasar perkembangan, yaitu: 1) bekal kapasitas motor (jasmani); dan 2) bekal kapasitas panca indera (sensori).
Mula-mula seorang anak yang baru lahir hanya memiliki sedikit sekali kendali terhadap aktivitas alat-alat jasmaninya. Setelah berusia empat bulan, bayi itu sudah mulai mampu duduk dengan bantuan sanggahan dan dapat pula meraih dan menggenggam benda-benda mainnya yang sering hilang dai pandangannya. Kini ia telah memiliki apa yang disebut grasp reflex (Kennedy, 1997) atau grasping Reflex (Reber, 1988) yakni gerakan otomatis untuk menggenggam.
Respons otomatis yang juga dimiliki seorang bayi sebagai bekal dan dasar perkembangannya ialah rooting reflex (Reber, 1988) yang berarti refleks dukungan yakni gerakan kepala dan mulut yang otomatis. Dua macam refleks diatas, grasp dan rooting merupakan kapasitas jasmani yang sampai umur kurang lebih lima bulan belum memerlukan kendali ranah kognitif karena sel-sel otaknya sendiri belum cukup matang untuk berfungsi sebagai alat pengendali.
Bekal psikologi kedua yang dibawa anak dari rahim ibunya ialah kapasitaas sensori. Berkat adanya bekal kapasitas sensori, bayi dapat mendengar dengan baik bahkan mampu membedakan antara suara yang keras dan kasar dengan suara lembut ibunya atau suara lembut wanita-wanita lainnya. Disamping itu bayi juga dapat melihat sampai batas jarak empat kaki atau kira-kira satu seperempat meter, tetapi belum mampu  memusatkan pandanganya pada barang-barang yang ia lihat. Namun, kemampuan membedakan warna (walaupun belum mampu menyebut jenis nama jenis warna), dan mengikuti gerakan benda-benda sudah mulai tampak.
Selanjutnya, kecuali dua macam bekal bawaan anak seperti diatas, ada empat faktor yang mendorong perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu :
Pertumbuhhan dan perkembangan sistem syaraf (nervous syistem). Sistem syaraf adalah organ halus dalam tubuh yang terdiri atas struktur jaringan serabut syaraf yang sangat halus yang berpusat di central nervous system, yakni pusat sistem jaringan syaraf yang ada diotak (Reber, 1988). Pertumbuhan syaraf dn perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkah laku baru. 
Pertumbuhan otot-otot. Otot-otot adalah jaringan sel-sel yang dapat berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sel yang memiliki daya mengkerut (contractile unit). Di antara fungsi pokoknya ialah sebagai pengikat organ-organ lainnya dan sebagai jaringan pembuluh yang mendistribusikan sari makanan (Reber, 1988). 
Perkembangan dan perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin (endocrine glands). Kelenjar adalah alat tubuh yang menghasilkan cairan atau getah, seperti kelenjar keringat. Selanjutnya, kelenjar endokrin dalam tubuh  yang memproduksi hormon yang disalurkan keseruh bagian tubuh melalui aliran darah. Lawan endokrin adalah eksokrin (exocrine) yang memiliki pembuluh tersendiri untuk menyalurkan hasil sekresinya (proses pembuatan cairan atau getah) seperti kelenjar ludah (Gleitman, 1987). Berubahnya fungsi kelenjar-kelenjar endokrin seperti adrenal (kelenjar endokrin yang meliputi bagian atas ginjal dan memproduksi bermacam-macam hormon termasuk hormon seks), dan kelenjar pituitary (kelenjar dibagian bawah otak yang memproduksi dan mengatur berbagai hormon termasuk hormon pengembang indunng telur dan sperma), juga menimbulkan pola-pola baru tingkah laku anak ketika menginjak remaja. Perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya.
Perubahan struktur jasmani. Semakin meningkat usia anak akan semakin meningkat pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi (perbandingan baggaian) tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruhh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak. Kecepatan berlari, kecekatan bergerak, kecermatan menyalin pelajaran, keindahan melukis dan sebagainya akan terus meningkat seiring dengan proses penyempuranaan struktur jasmani siswa. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan perilakunya terhadap orang lain karena perubahan fisik itu sendiri mengubah konsep diri (self-concept) siswa tersebut. Self-concept atau konsep-diri ialah totalitas sikap dan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri.
Perkembangan Kognitif Siswa
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan,  pengelolaan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Selanjutnya, berikut ini akan diuraikan tahapan-tahapan perkembangan kognitif versi Piaget sebagaimana tersebut berdaasarkan sumber-sumber dari Daehler & Bukatko (1985), Lazerson (1985), dan Anderson (1990).
Sensory-motor schema (skema-sensori-motor) ialah sebuah atau serangkaian perilaku terbukayang tersusun secara sistematis untuk merespons lingkungan (barang, orang, keadaan, kejadian).
Cognitive schema (skema kognitif), ialah perilaku terrtutup berupa tatanan langkah-langkah kognitif (operations)yang berfungsi memahami apa yang tersirat atau menyimpulkan lingkungan yang direspons.
Object permanence (ketetapan benda) yakni anggapan bahwa sebuah benda akan tetap ada walaupun sudah ditinggalkan atau tidak dilihat lagi.
Assimilation (asimilasi), yakni proses aktif dalam menggunakan skema untuk merespons lingkungan.
Accommodations (akomodasi), yakni penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspon.
Equilibrium (ekuilibrium), yakni keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketepatan akomodasi.
Tahap Sensori-motor (0-2 tahun)
Selama perkembangan dalam periode sensori-motor yang berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelijensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, inteligensi sensori-motor sesungguhnya merupakan inteligensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi fondasi untuk tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.
Anak pada periode ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan seperti diatas. 
Ketika seorang bayi berinteraksi dengan lingkungannya, ia akan mengasimilasikan skema sensori-motor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrum yang memuaskan kebutuhannya. Proses asimilasi dan akomodasi dalam mencapai ekuilibrium seperti diatas selalu dilakukan bayi, baik ketika ia hendak memenuhi dorongan lapar dan dahaganya maupun ketika bermain dengan benda-benda mainan yang ada disekitarnya.
Dalam rentang usia antara 18 hingga 24 bulan, kemampuan mengenal object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Dalam rentang usia sehatun setengah hingga dua tahun itu, benda-benda mainan dan orang-oranf yang biasa berada disekitarnya (seperti ibu dan pengasuhnya) akan ia cari dengan sungguh-sungguh apabila ia memerlukannya.
Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
Periode perkembangan kognitif pra-operasional terjadi dalam diri anak ketika berumur 2 sampai 7 tahun. Perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan didengar lagi.
Perolehan kemampuan berupa kesadaran terhadap eksistensi object permanence (ketetapan adanya benda) adalah hasil dari munculnya kapasitas kognitif baru yang disebut representation atau mental repretation (gambaran mental). Secara singkat representasi adalah suatu yang mewakili atau atau menjadi simbol atau wujud sesuatu yang lainnya. Representasi mental merupakan bagian penting dari skema kognitif yang memungkinkan anak berfikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian itu berada diluar pandangan, atau jangkauan tangannya. 
Representasi mental juga memungkinkan anak untuk mengembangkan deferred-imitation (peniruan yang tertunda), yakni kapasitas meniru perilaku orang lain yang sebelumnya pernah ia lihat untuk merespon lingkungan. Perilaku-perilaku yang ditiru terutama perilaku-perilaku orang lain (khususnya orang tua dan guru) yang pernah ia lihat ketika orang itu merespons barang, oraang, keadaan, dan kejadian yang dihadapi pada masa lampau. 
Dalam periode perkembangan praoperasional, disamping diperolehnya kapasitas-kapasitas seperti diatas, yang juga penting ialah diperolehnya kemampuan berbahasa. 
Tahap Kongkret-Operasional (7-11 tahun)
Dalam periode kongkret-operasional yang berlangsung hingga usia menjelang remaja, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan langkah berfikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu kedalam sistem pemikirannya sendiri.
Satuan langkah berfikir anak kelak akan menjadi dasar terbentuknya intelejensi intuitif. Intelegensi menurut Piaget , bukan sifat yang biasanya digambarkan dangan skor IQ itu. Intelejensi adalah proses, yang dalam hal ini berupa tahapan langkah operasional tertentu yang mendasari semua pemikiran dan pengetahuan manusia, disamping merupakan proses pembentukan pemahaman.
Dalam intelejensi operasional anak yang sedang berada pada tahap kongkrit-operasional terdapat sistem operasi kognitif yang meliputi:
Conservation;
Conservation (konsevasi/pengekalan) adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek komulatif materi, seperti volume dan jumlah. 
Addition of classes;
Addition of classes (penambahan golongan benda) yakni kemampuan ank dalam memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas lebih rendah seperti mawar, melati, dan menghubungkannya dengan golongan benda yang berkelas lebih tinggi, seperti bunga.
Multiplication of class.
Multiplication of classes (pelipatgandaan golongan benda), yakni kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda (seperti warna bunga dan tipe bunga) untuk membentuk gabungan golongan benda (seperti mawar merah, mawar putih, dan seterusnya).
Tahap Formal-Operasional (11-15 tahun)
Dalam tahap perkembangan formal-operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak maasa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran kongkret-operasional seperti yang sudah disinggung dalam uraian sebelumnya.
Dalam perkembangan tahap akhir ini sorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni:
kapasitaas menggunakan hipotesis;
Dengan kapsitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar), seorang remaja akan mampu berfikir hipotesis, yakni  berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons. Selanjutny,
kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
Dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu agama (dalam hal ini misalnya ilmu tauhid), ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstak lainnya dengan luas dan lebih mendalam.
Perkembangan Sosial dan Moral Siswa
Pendidikan, ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyrakatan), adalah upaya penumbuh kembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga.
Perkembangan psikososial siswa, atau sebut saja perkembangan sosial siswa, adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku anggota maasyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangann ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayatnya. Perkembangan sosial, menurut Bruno (1987), merupakan proses pembentukan social-selft (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
Seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan.
Dalam dunia psikologi belajar terdapat aneka mazhab (aliran pemikiran)yang berhubungan dengan perkembangan sosial. Diantara ragam mazhab, perkembangan sosial ini yang pling menonjol dan layak dijadikan rujukan ialah,
Aliran teori  coqnitive psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan Lawrence Kohlbreg;
Perkembangan Sosial dan Moral Versi Piaget dan Kohlberg
Piaget dan Kohlberg menekankan bahwa pemikiran moral seoranga anak, terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sementara itu, lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yang akan diolah oleh ranah kognitif anak tersebut secara aktif. 
Ada dua macam metode yang diaplikasikan Piaget untuk melakukan studi mengenai perkembangan moral anak dan remaja, yaitu:
Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyainya mereka tentang aturan yang mereka ikuti.
Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak-anak, lalu meminta responden (yang terdiri atas anak dan remaja) untuk menilai kisah-kisah tersebut berdasarkan pertimbangan moral mereka sendiri.
Berdasarkan data hasil studynya diatas, Piaget menemukan dua tahap perkembangan moral anak dan remaja yang antara tahap pertama dan kedua diselingi dengan masa transisi, yakni pada usia 7-10 tahun. 
Alhasil, menurut Kohlberg perkembangan sosial dan moral manusia itu terjadi dalam tiga tingkatan besar, yakni:
Tingkat moralitas prakonvensional, yaitu ketika manusi menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan prayuwana (usia 4-10 tahun) yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisional.
Tingkat moralitas konvensional, yaitu ketika manusia menjelangdan mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yanga sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
Tingkat moralitas pascakonvesional, yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan prayuwana (usia 13 tahun keatas) yang memandang moral lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial.
Aliran teori social learning dengan tokoh utama Albert Bandura dan R.H. Walters.
Perkembangan Sosial dan Moral Versi Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya.salah satu seorang tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura, seorang psikolog pada Universitas Stanford Amerika Serikat.
Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura meliputi proses belajar sosial dan moral. Menurut Bnadura seperti yang dikutip Baelow (1985), sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). 
Pendekatan teori belajar sosial terhadap perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
Conditioning. Menurut prinsip-prinsip kondisioning, prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (ganjaran/memberi hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman/memberi hukuman).
Imitation. Prosedur lain yang juga penting dan menjadi bagian yang integral dengan prosedur-prosedur belajar menurut teori social learning, ialah proses imitasi atau peniruan. dalam hal ini orang tua dan guru seyogianya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Perkembangan dan belajar sangatlah erat hubungannya, karena perkembangan akan menunnjang suatu proses belajar seseorang. Jika seseorang tidak mampu mengikuti perkembangan maka ia juga akan sulit dan kurang maksimal dalam belajar. Perkembangan adalah suatu proses perubahan kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, ada tiga aliran perkembangan yaitu; aliran asosiasi, aliran psikologi Gestalt, aliran sosiologis. Dan tiga faktor yang mempengaruhinya yaitu; nativisme, empirisme, konvergensi.
Didalam perkembangan psikis-siswa terdapat tiga perkembangan yaitu;  perkembangan motor (fisik) siswa, perkembangan kognitif siswa, perkembangan sosial dan moral siswa. Didalam perkembangan kognitif siswa terdapat tiga tahap, yaitu tahap sensori motor, tahap praoperasional, tahap kongket-operasional, tahap formal operasional.
Saran 
Belajar adalah suatu yang sangat penting bagi semua orang. Karena dengan belajar kita akan mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui dan dengan belajar kita juga akan mengalami perubahan kearah yang lebih maju dan dewasa, dan didalam belajar kita harus dapat mengikuti setiap perkembangan yang ada didalamnya. Salah satu cara agar kita dapat lebih mengetahui perkembangan dan hubungannya dengan belajar adalah dengan senantiasa mempelajari buku-buku atau sumber-sumber lain yang berkaitan dengan belajar. Semoga makalah yang kami tulis dapat menambah  wawasan kita tentang hubungan perkembangan dengan belajar.
Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi dosen pembimbing dan kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena kami hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas.

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suryabrata Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
Syah Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Perkembangan Anak pada Masa Kanak-kanak Kanak 4-6 Tahun

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK MASA NATAL DAN POS NATAL

Makalah psikologi perkembangan anak: Masa Anak atau Masa Sekolah (7-12 tahun)