MAKALAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI
HAMBATAN PSIKOLOGIS PADA ANAK USIA DINI DAN SOLUSINYA
Disusun Oleh :
Kelompok 14
Fazaria Eka Yulita (1720201081)
Indah Pratiwi (1720201083)
Nurizah (1720201100)
Dosen Pengampuh :
Saipul Annur, M.Pd.
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Makalah dengan judul “Hambatan Psikologis pada Anak Usia Dini dan Solusinya” ini disusun agar dapat bermanfaat sebagai media sumber informasi dan pengetahuan.
Ucapan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak, teman-teman dan semua pihak yang telah terlibat dan memberikan bantuan dalam bentuk moril maupun materil dalam proses penyusunan makalah ini, sehingga dapat selesai tepat pada waktunya.
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat dibutuhkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna serta bisa digunakan sebagaimana mestinya.
Palembang, Mei 2019
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar belakang masalah 1
Rumusan masalah 1
Tujuan penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
Hambatan Psikologis pada Anak Usia Dini 2
Faktor Penyebab Hambatan Psikologis pada Anak Usia Dini 12
Cara Mengidentifikasi Masalah pada Anak 12
Langkah-langkah dan Teknik Penanganan Masalah 13
Syarat Menangani Permasalahan Anak 15
BAB III PENUTUP 17
Kesimpulan. 17
Saran 17
DAFTAR PUSTAKA 18
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Anak merupakan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dijaga dengan baik. Seorang anak dididik dan dijaga dari sejak ia masih dalam kandungan hingga dewasa. Salah satu tahap yang ditempuh dalam kehidupan anak ialah pada tahap anak usia dini. Tahap usia dini ialah tahap dimana anak sedang dalam masa golden aged, dimana kemampuan anak pada tahap ini mengalami perkembangan yang signifikan dan anak pada tahap ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Tahap usia dini memang akan dilalui seorang anak, tapi bukan berarti bisa dilalui dengan mudah. Ada beberapa hambatan atau masalah yang ditemui ketika anak sedang berada pada usia dini. Salah satunya yang ditemui ialah hambatan psikologis, yaitu hambatan yang menyangkut masalah kejiwaaan, emosional, dan moral. Sebagai orang tua dan orang-orang terdekat bagi anak tentunya masalah atau hambatan psikologis ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada penanganan masalah dan solusi yang harus dilakukan agar anak nantinya bisa mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik.
RUMUSAN MASALAH
Apa saja hambatan psikologis pada anak usia dini ?
Apa saja faktor yang mempengaruhi hambatan psikologis pada anak usia dini?
Bagaimana solusi dan cara penanganan masalah hambatan psikologis pada anak usia dini?
TUJUAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui hambatan psikologis pada anak usia dini
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi hambatan psikologis pada anak usia dini
Untuk mengetahui solusi dan cara penanganan masalah hambatan psikologis pada anak usia dini
BAB II
PEMBAHASAN
HAMBATAN PSIKOLOGI ANAK USIA DINI
Hambatan psikologi adalah segala hambatan yang bersifat menggangu psikis/moral/kejiwaan terhadap individu atau kelompok. Hambatan psikologi bisa terjadi pada siapa saja termasuk pada anak usia dini. Adapun hambatan-hambatan psikologi pada anak usia dini yaitu:
Hambatan Memahami Sesuatu
Hambatan memahami sesuatu bisa terjadi pada anak. Hal ini bisa disebabkan oleh diri anak sendiri dimana daya tangkapnya memang lemah, atau bisa juga karena lingkungannya yang jarang memberikan informasi yang mudah dipahami. Sebaiknya orang tua membimbing anak untuk melatih pemahaman anak sejak dini dengan menggunakan benda- benda di sekelilingnya dan dengan penjelasan sederhana yang bisa dipahami.
Hambatan untuk Fokus
Kemampuan anak untuk memusatkan perhatian akan terganggu jika terjadi hambatan perkembangan. Dalam hal ini orang tua harus mencari tahu penyebabnya. Mungkin terlalu lama bermain gadget atau menonton televisi juga bisa berpengaruh. Orang tua perlu menekankan bahwa yang akan mereka bicarakan itu penting sehingga anak perlu untuk menyimaknya. Hindari paparan media distraksi yang terlalu sering.
Daya Ingat Lemah
Anak dengan daya ingat yang lemah bisa terjadi apabila nutrisi dan latihan perkembangan yang diberikan sejak dini kurang. Maka berikan asupan makanan bergizi pada anak sejak dini dan latihlah dengan aktivitas yang memperkuat daya ingat anak, bisa melalui permainan- permainan yang seru. Agar anak memiliki ingatan yang kuat, orang tua bisa melatihnya menghafal sedikit demi sedikit namun sering dan konsisten.
Kemampuan Berbahasa
Kemampuan berbahasa anak memang berbeda- beda. Hambatan perkembangan pada anak bisa mempengaruhi kemampuan berbahasanya. Orang tua harus memberikan contoh bagaimana cara berbahasa yang baik untuk komunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Ajarkan anak untuk mencontoh kata- kata Anda yang baik dan mempraktekkannya langsung pada orang lain.
Hambatan Berbicara
Beberapa anak juga mengalami hambatan berbicara. Ada beberapa anak di usianya yang sudah menguasai banyak kosa kata, namun ada juga yang perkembangannya terlambat sehingga belum bisa berbicara. Hal ini bisa diatasi dengan cara orang tua menjadi aktif untuk mengajak anak berbicara. Pola pembicaraan yang dilakukan janganlah satu pihak saja, namun memancing anak untuk menirukan kata- kata misalnya seperti kata mama atau papa.
Hambatan Interaksi Sosial
Tipe anak yang pemalu dan menarik diri dari lingkungan sosial merupakan salah satu hambatan perkembangan anak. Pada masa ini anak seharusnya memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk ingin bermain dengan teman- teman sebayanya dan juga tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Hambatan interaksi sosial juga bisa berasal dari orang tua. Apabila orang tua tidak pernah memperlihatkan cara berinteraksi dengan orang lain kepada anak, maka anak pun akan terhambat interaksi sosialnya. Berikan contoh, ajarkan pada anak bagaimana bereaksi terhadap repon sosial, berbicara, bermain, dan aturan sosial lainnya.
Kesulitan Adaptasi dengan Lingkungan
Kesulitan beradaptasi dengan lingkungan merupakan hambatan perkembangan anak dikarenakan kurangnya pengetahuan untuk interaksi dengan orang sekitarnya. Hal ini biasa terjadi ketka anak mulai memasuki sekolah dengan lingkungan baru atau teman- teman baru. Dalam mengatasi hal ini dibutuhkan bantuan orang tua atau guru untuk memulai pengenalan atau adaptasi anak dengan lingkungannya. Anak pada umumnya mampu beradaptasi dengan cepat, sehingga dibutuhkan peranan yang menngawali hal tersebut.
Tingkat Emosional Anak
Apakah yang disebut emosi? Sebagian orang mengartikan emosi sama dengan perasaan. Orang-orang telah mencoba untuk memahami fenomena emosi sealama ribuan tahun. Definisi utama emosi mengacu pada perasaan kuat yang melibatkan pikiran, perubahan fisiologis, dan ekspresi pada sebuah perilaku.
Emosi manusia dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu emosi primer dan emosi sekunder. Emosi primer adalah emosi utama yang dapat menimbulkan emosi sekunder. Emosi primer muncul begitu manusia dilahirkan. Emosi primer antara lain gembira, sedih, marah, dan takut.
Emosi sekunder adalah emosi yang timbul sebagai gabungan dari emosi-emosi primer dan bersifat lebih kompleks. Emosi sekunder berasal dari kesadaran dan evaluasi diri. Emosi sekunder antara lain malu, iri hati, dengki, ujub, kagum, takjub, dan cinta.
Perkembangan emosional anak dimulai pada usia dini, ketika anak-anak masuk taman kanak-kanak dan prasekolah. Melalui interaksi mereka denagn orang lain, anak-anak mengembangkan kemampuan sosial dan intelektualnya. Perkembangan emosional dan intelektual biasanya berjalan beriringan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan sosialnya, karena interaksi anak-anak dan orang dewasa menciptakan kesehatan emosional. Perbedaan antara perasaan positif dan negatif terhadap situasi tertentu mungkin disebabkan perkembangan emosional. Beberapa anak merespons dengan baik berbagai situasi sosial yang berbeda. Interaksi akan membantu mereka memiliki perkembangan emosional yang kuat. Anak anak yang mengalami trauma akan mengalami kesulitan berintraksi dengan orang lain.
Bagi anak-anak mengamuk adalah cara anak untuk mengekspresikan diri karena kata-kata sering gagal menyampaikan maksudnya. Mereka merasa bahwa kata-kata tidak cukup untuk menyampaikan seluruh pesan. Orang tua atau guru harus memberikan penguatan positif pada anak dengan cara membujuk anak untuk bicara tentang masalah atau sinyal emosinya, sebab jika tidak dilakukan anak akan cenderung mengamuk lagi.
Pada usia 3 tahun anak telah semakin terampil mengatur emosinya. Anak sudah mulai paham ketika orang tua mengajarkan bahwa tidak boleh membanting-banting mainan ketika marah. Pada usia 4-6 tahun anak-anak telah mampu mengenali orang lain dan sudah memahami perasaan teman-temannya. Meraka mulai empati jika perbuatannya membuat orang lain menjadi marah atau sedih.
Tingkat emosional anak terbentuk dari orang orang disekitarnya misalnya lingkungan, orang tua, atau orang- orang terdekat lainnya. Anak juga cenderung memiliki emosi yang tinggi apabila tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan, sering mendengar nada- nada keras atau dibentak. Pada lingkungan yang demikian, anak juga akan mengalami hambatan perkembangan. Tingkat emosional anak menjadi tidak stabil dan sulit ditebak. Pentingnya peranan orangtua dalam mengendalikan emosi di sekitar anak sangat diperlukan.
Sakit
Kondisi sakit juga menjadi hambatan perkembangan anak. Anak menjadi tidak mampu mengikuti proses pembelajaran sehingga tertinggal oleh anak seusianya. Kondisi sakit juga tidak memungkinkan dirinya bermain dan belajar seperti biasanya. Segala perlengkapan, tempat, pengobatan, serta prosedur tindakan selama sakit dapat menjadi pengalaman berbeda yang kurang menyenangkan bagi anak dan yang seharusnya tidak perlu mereka alami. Dukungan orang tua sangat penting.
Gangguan Kepribadian
Hambatan perkembangan anak lainnya yaitu adanya gangguan kepribadian. Hal ini bisa dikarenakan pengaruh tidak baik dari lingkungannya maupun dari keluarga. Anak akan tumbuh cenderung aneh dan dinilai berbeda dengan temannya. Pembawaan diri yang berbeda ini membuat anak dijauhi oleh teman disekitarnya.
Perilaku Buruk
Hambatan perkembangan anak lainnya ditandai dengan perilaku anak yang buruk. Perilaku yang dimaksud adalah seperti anak yang rewel, suka merengek bahkan menangis keras tanpa bisa mengerti apa yang mereka inginkan. Anak seperti ini bisa saja manja, menginginkan perhatian lebih, atau tipe yang agresif dan banyak menuntut. Hal tersebut berasal dari pola didik orang tua yang kurang baik. Perkembangan anak bisa terhambat akibat hal ini, karena lingkungannya mungkin juga tidak menyukai hal tersebut.
Disleksia
Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak, yang ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau diatas rata-rata. Kemampuan membaca seorang anak tidak hanya ditentukan oleh baik atau tidaknya penglihatan anak, tetapi juga tergantung pada tingkat perkembangan kognitif anak. Kemampuan anak dalam membaca juga sanagt tergantung pada kemampuan ibu dalam berkomunikasi denagan anaknya, seorang anak akan sangat terbantu pemahaman tentang kata atau makna kata melalui penjelasan ibunya saat mulai belajar bercakap-cakap.
Ada tiga aspek kognitif penderita dysleksia yaitu, pendengaran, penglihatan dan perhatian. Disleksia dapat mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang. Penderita disleksia secara fisik tidak terlihat sebagai penderita disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan termasuk dari atas kebawah dan dari kiri ke kanan serta sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke otak. Hal ini yang sebenarnya dianggap penderita dysleksia tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam mengatasi disleksia biasanya dilakukan terapi Binaural Beats Dysleksia.
Dyscalculia
Dyscalculia adalah kesulitan dalam belajar atau memahami matematika (termasuk tentang symbol-simbol dan bentuk matematika), diskalkulia bisa terjadi akibat dari cidera otak. anak yang mengalami dyscalculia akan kesulitan dalam menghafal bentuk angka dan bangun geometri sederhana seperti(lingkaran,persegi dan segitiga), ia juga kesulitan dalam menghitung bilangan sederhana misalnya ( 1+2) dan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.dyscalculia dapat terdeteksi pada usia dini dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memahami cara bermatematika yang diajarkan kepada anak-anak dan tentunya dilakukan sambil bermain dan menyenangkan.
Inteligency (baik tinggi maupun rendah)
Pada umumnya anak usia dini ada yang memiliki tingkat intelegensi yang tinngi dan ada juga yang rendah, biasanya anak yang memiliki inteligensi tinggi ia selalu cepat dalam mengerjakan tugas-tugasnya, memiliki daya tangkap dan daya ingatan yang sangat bagus dan ia pun sering mengganggu teman-temannya ketika ia telah selesai mengerjakan tugasnya. Begitu juga sebaliknya anka yang memiliki intelegensi yang rendah ia akan lama untuk mengingat dan menangkap suatu pelajaran dan informasi yang diterimanya. Hal tersebut sangat berpengaruh pada asupan nutrisi yang diberikan sang ibu sejak dalam rahim, karena pada saat itulah pembentukkan otak akan berkembang sejak dalam kandungan.
Berbohong
Penyebab berbohong diantaranya adalah kekerasan pada orang tua dan para pendidik sehingga mereka berdusta agar terhindar dari hukuman,peniruan dari orang dewasa, kesadaran anak akan kekurangan dirinya sehingga mendorongnya untuk berbohong,karena ingin dipuji juga karena imajinasinya.
Tidak menuduh anak berbohong bila tidak mempunyai bukti.Setiap orang butuh diberi kepercayaan, begitu pula anak-anakkita. Dahulukan prasangka baik dengan mendengarkan alasan-alasan yang dikemukakan. Jika tidak mendapatkan kepercayaan ia akan menolak untuk berkomunikasi.Menjadi pendengar yang baik, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak.Jika mengetahui anak berbohong, langsung jelaskan faktanya tidak perlu menunggu sampai dia mengaku, apalagi memaksa ia untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Tindakan ini hanya akan mendidiknya lebih canggih untuk berbohong.
Kontrol emosisaat mengetahui anak berbohong.Emosi yang berlebihan dan memenggil anak sebagai pembohong tidak akan menyelesaikan masalah, malah makin membuat anak takut dan berbohong lagi. Berikan jaminan bahwa jika ia bereterus terang kita akan mema’afkan dan tidak menghukumnya.Mengevaluasi diri, apakah kita terlalu keras kepada anak, sehingga tersumbat jalur komunikasi dengan anak.Jika anak berbohong karena imajinasi maka ajari anak untuk membedakan antara hal realistik dan imajinasi tanpa menyalahkan sikap bohongnya tersebut.
Rasa Takut
Ketakutan biasanya disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adanya cerita seram dan menakutkan, takut pada gelap karena membayangkan hal-hal yang seram, ada juga ketakutan-ketakutan lainnya yang dialami anak, misalnya takut pada orang tua, rasa takut kepada orang tua karena orang tua yang sering membentak, memarahi dan menghukum, dan sering juga terjadi takut ditinggal ibu, rasa takut terhadap hewan, serangga, gelap, dokter atau dokter gigi, ketinggian, monster, lamunan, sekolah, angin topan, dll. Hal ini terjadi karena anak tidak dibiasakan bersosialisasi dengan lingkungan. Setiap anak memiliki rasa takut, namun jika berlebihan dan tidak wajar maka perlu diperhatikan.
Rasa takut yang berlebihan terlihat dalam gejala-gejala seperti berikut :
Gejala psikis, seperti ; gangguan makan, tidur, perut, sulit bernafas, dan sakit kepala.
Gejala emosional, seperti ; rasa takut, sensitif, rendah diri, ketidakberdayaan, bingung, putus asa, marah, sedih, bersalah.
Gejala tingkah laku seperti : gangguan tidur, mengisolasi diri, prestasi kurang di sekolah, agresi, mudah tersinggung, menghindari pergi keluar, ketergantungan pada suatu benda, dan terus berada di kamar orang tua.
Penyebab anak memiliki rasa takut :
Intelegensi (anak-anak yang tingkat intelegensi tinggi cenderung punya rasa takut yang sama dengan anak yang berusia lebih tua, demikian pula sebaliknya).
Jenis kelamin (anak perempuan lebih takut dibanding laki-laki karena lingkungan sosial lebih menerima rasa takut perempuan).
Keadaan fisik (anak cenderung takut bila dalam keadaan lelah, lapar atau kurang sehat).
Urutan kelahiran (anak sulung cenderung lebih takut karena perlindungan yang berlebihan).
Kepribadian anak (anak yang kurang memperoleh rasa aman cenderung lebih penakut).
Adanya contoh yang dilihat anak, seperti ; tontonan TV, atau ibu yang takut.
Trauma yang dialami anak-anak, seperti ; tabrakan mobil, angina topan, bencana alam, dll.
pola asuh orang tua yang menghidupkan rasa takut anak seperti ; paksaan, hukuman, ejekan, ketidakperdulian, dan pelindungan diluar batas.
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan:
Mendengarkan cerita anak
Lindungi dan hibur anak
Ajari kenyataan
Memberi hadiah
Memberi contoh teladan (guru sebagai model)
Coping model (adalah salah satu cara seseorang menghadapi rasa takut namun ia harus melewati rasa takut itu. Salah satu cara dengan bicara pada diri sendiri).
Mendongeng
Melakukan aktivitas penuh tantangan
Memanfaatkan imajinasi anak untuk menumbuhkan keberanian
Menggambar
Agresif
Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan. Perilaku tersebut cenderung melukai anak lain seperti menggigit, mencakar, atau memukul. Bertambahnya usia diekspresikan dengan mencela, mencaci dan memaki.
Gejala anak yang agresif :
Sering mendorong, memukul, atau berkelahi.
Menyerang dengan menggunakan kaki, tangan, tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan teman-teman.
Menyerang dalam bentuk verbal seperti ; mencaci, mengejek, mengolok-olok, berbicara kotor dengan teman.
Tingkah laku mengganggu muncul karena ingin menunjukkan kekuatan kelompok. Biasanya melanggar aturan atau norma yang berlaku di sekolah seperti; berkelahi, merusak alat permainan milik teman, mengganggu anak lain.
Penyebab anak agresif:
Pola asuh yang keliru (melakukan kekerasan terhadap anak, otoriter terhadap anak dan terlalu protektif, terlalu memanjakan anak (orang tua selalu mengijinkan atau membenarkan permintaan anak)
Reaksi emosi terhadap frustasi (banyaknya larangan yang dibuat guru atau orang tua (kecemasan yang berlebihan), sementara anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhannya).
Tingkah laku agresif sebelumnya (tingkah laku agresif yang pernah dilakukan anak mendapat penguatan dari keluarga atau guru).
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik :
Bermain peran
Belajar mengenal perasaan
Belajar berteman melalui permainan beregu
Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya
Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik
Pemalu
Pemalu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan, yang timbul pada seseorang, akibatnya adanya penilaian negatif terhadap dirinya.
Ciri anak pemalu adalah :
Kurang berani bicara dengan guru atau orang dewasa
Tidak mampu menatap mata orang lain ketika berbicara
Tidak bersedia untuk berdiri di depan kelas
Enggan bergabung dengan anak-anak lain
Lebih senang bermain sendiri
Tidak berani tampil dalam permainan
Membatasi diri dalam pergaulan
Anak tidak banyak bicara
Anak kurang terbuka
Penyebab anak pemalu:
Keadaan fisik
Kesulitan dalam bicara
Kurang terampil berteman
Harapan orang tua yang terlalu tinggi
Pola asuh yang mencela
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik :
Melibatkan anak pada kegiatan yang menyenangka
Belajar bergabung melalui permainan
Mengajar cara mulai berteman
Dorong anak berpartisipasi dalam kelompok
Kecemasan
Kecemasan merupakan keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang meliputi interprestasi subyektif dan rangsangan fisiologis,misalnya bernafas lebih cepat, jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin. Pada umumnya kecemasan pada anak usia dini secara bertahap akan berkurang seiring bertambahnya usia anak.
FAKTOR PENYEBAB HAMBATAN PSIKOLOGIS PADA ANAK USIA DINI
Pembawaan, yakni anak dengan semua keadaan yang ada pada dirinya;
Lingkungan keluarga, mencakup pola asuh orang tua,kasih sayang,stimulasi, keadaan social ekonomi keluarga, dan lain-lain;
Masyarakat, mencakup pergaulan, norma, adat istiadat, dan lain-lain.
CARA MENGIDENTIFIKASI MASALAH PADA ANAK
Mengidentifikasi permasalahan anak diartikan sebagai upaya menemukan gejala-gejala yang tampak pada penampilan dan perilaku anak dalam memperkirakan penyebab masalah hingga bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Berbagai cara dapat dilakukan orang tua dan guru untuk mengetahui apakah anak mengalami permasalahan atau tidak. Cara-cara tersebut secara umum dibagi dua, yakni melalui tes dan non tes.
Tes
Tes adalah serangakaian pertanyaan atau latihan atau alait lain ynag digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes merupakan salah satu alat bantu yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak yang bersifat standar/baku. Bentuk tes ini dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang harus diawab atau dikerjakan anak serta dibatasi oleh waktu. Di antara beragam jenis tes yang dapat dipergunakan di antaranya adalah:
Tes bakat
Inteligensi
Prestasi
Diagnostik
Non Tes
Teknik non tes biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak dengan cara mengamati penampilan serta perilaku anak dalam aktivitas kesehariannya sehingga cenderung lebih fleksibel bila dibandingkan dengan teknik tes. Di samping itu, dipergunakan pula kumpulan hasil karya dan pekerjaan anak selama periode waktu tertentu. Berapa macam teknik non tes yang populer, diantaranya adalah:
Observasi
Wawancara
Angket
Catatan anekdot
Daftar cek
Skal penilaian
Sosiometri
LANGKAH-LANGKAH DAN TEKNIK PENANGANAN MASALAH
Langkah-langkah Penanganan Masalah
Penanganan masalah anak dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
Identifikasi kasus
Yakni upaya untuk menandai subjek (anak) yang diperkirakan mengalami masalah.dengan mendeteksi permasalahan anak.
Identifikasi masalah
Yakni upaya mengetahui inti permasalahan yang dihadapi anak.
Diagnosis
merupakan langkah untuk mengidentifikasi karakteristik serta faktor penyebab masalah yang dialami anak.
Prognosis
Merupakan langkah untuk merumuskan alternatif upaya bantuan sesuai dengan karakteristik permasalahan yang dialami.menentukan jalan apa yang akan dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada anaknya.
Treatment
Merupakan upaya pemberian bantuan itu sendiri melakukan perawatan atau terapi sesuai masalah anak demi penyembuhannya. Terapi bisa berbentuk medis ataupun non medis, bisanya permasalahan yang menggunakan treatment adalah permasalahan fisik dan psikis yang membutuhkan dokter dan psikiater atau psikolog.
Tindak lanjut
Dilakukan sebagai bentuk evaluasi terhadap upaya pemberian bantuan yang telah dilakukan serta kemungkinan penggunaan langkah-langkah berikutnya.
Teknik Penanganan Masalah
Pada hakikatnya, tidak ada satu pun teknik yang efektif untuk menangani permasalahan anak yang berbeda-beda. Penggunaan suatu teknik akan bergantung kepada karakteristik anak, jenis permasalahan, kemampuan serta keterampilan pemberi bantuan, serta faktor feasibilitasnya. Di antara berbagai teknik yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk membantu menangani permasalahan anak adalah sebagai berikut :
Latihan
Dengan latihan kita dapat mengetahui dan mengevaluasi sejauh mana kemampuan anak,juga dapat mengetahui dimana kelemahan anak. Latihan diberikan kepada anak untuk melatih konsentrasi atau aspek kognitif anak.
Permainan
Permainan dan bermain merupakan kebutuhan bagi anak. Melalui permainan anak dapat mengembangkan berbagai aspek, termasuk aspek social emosional yang dapat membantu pengembangan karakter anak usia dini. Permainan merupakan sumber media untuk menstimulasi anak.
Saran dan nasihat
Dalam menangani masalah anak saran dan nasihat sangat diperlukan untuk mengarahkan anak dan menjelaskan nilai baik buruk kepada anak. Ketika kita memberikan nasihat akan mudah diterima ketika anak masih berada pada usia dini.
Pengkondisian (conditioning)
Ketika kita akan mengatasi masalah yang sedang dihaadapi anak hendaknya kita harus melihat kondisi dan keadaan yang memungkinkan untuk melakukannya.
Model dan peniruan (modeling and imitation)
Anak adalah peniru ulung, anak hanya melakukan apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan maka dari itu kita sebagai orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak.
Konseling
Merupakan proses yang terjadi antara anak dan seorang konselor yang membantu anak-anak untuk sembuh dan kembali rasa percaya dirinya. Selama konseling, seorang anak didorong untuk dapat menyatakan perasaan mereka.
SYARAT MENANGANI PERMASALAHAN ANAK
Orang tua dan guru merupakan model bagi anak. Untuk dapat membantu menangani permasalahan anak dengan tepat, orang tua dan guru diharapkan memiliki beberapa karakteristik sebagai persyaratannya. Beberapa karakteristik di bawah ini setidaknya dapat membantu mempermudah orang tua dan guru dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak.
Kesabaran
Penuh kasih sayang
Penuh perhatian
Ramah
Toleransi terhadap anak
Empati
Penuh kehangatan
Menerima anak apa adanya
Adil
Dapat memahami perasaan anak
Pemaaf terhadap anak
Menghargai anak
Memberi kebebasan terhadap anak
Menciptakan hubungan yang akrab dengan anak
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hambatan psikologi adalah segala hambatan yang bersifat menggangu psikis/moral/kejiwaan terhadap individu atau kelompok. Hambatan psikologi bisa terjadi pada siapa saja termasuk pada anak usia dini. Adapun hambatan-hambatan psikologi pada anak usia dini yaitu: hambatan untuk memahami sesuatu, hambatan untuk fokus, perilaku yang tidak baik, rasa takut yang berlebihan, dan segala macam emosi yang buruk.
Hambatan tersebut perlu ditangani dengan baik. Salah satu solusi yang bisa dilakukan yaitu orang tua dan orang-orang terdekatnya perlu memberikan pengertian, perhatian dan kasih sayang yang cukup pada anak tersebut, selain itu perlunya konseling dan treatment dalam membantu mengatasi hambatan psikologis pada anak usia dini.
SARAN
Penulis menyadari bahwasannya makalah ini masih terdapat banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk menyempurnakan makalah ini agar lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan mendalam bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Fajri. 2018. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Palembang: Karya Sukses Mandiri.
Koswara, Deded. 2013. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Berkesulitan Belajar Spesifik. Jakarta: PT Luxima Metro Media.
Sit, Masganti. 2017. Perkembangan Peserta Didik. Depok: Prenada Media Group
https://blogduniaanakindonesia.blogspot.com/2017/05/perkembangan-psikologis-anak.html Diakses pada tanggal 15 Mei 2019 pukul 00.05 WIB
https://dosenpsikologi.com/hambatan-perkembangan-anak Diakses pada tanggal 14 Mei 2019 pukul 23.55 WIB
http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/paud/article/download/11859/pdf Diakses pada tanggal 14 Mei 2019 pukul 23.50 WIB
http://www.psikoma.com/mengenal-10-jenis-hambatan-perkembangan-pada-anak/ Diakses pada tanggal 15 Mei 2019 pukul 00.13 WIB
Makasih min sangat membantu😊
BalasHapusTerimakasih sangat membantu☺
BalasHapusSaya punya keponakan yang memiliki masalah dengan fokus nya, kalo di ajak ngobrol tentng sesuatu dia sering gak fokus , tpi kalo di ajak ngobrol masalh kesukaan dia seperti bermain tik tok dan game dia fokus, itu gimana ya min ?
BalasHapus